Analisis Ketahanan Masyarakat Pasca Bencana Likuifaksi di Kota Palu melalui Prespektif Resiliensi
DOI:
https://doi.org/10.61104/alz.v4i3.6260Keywords:
Likuifaksi, Resiliensi, Adaptasi Masyarakat, Pemulihan Ekonomi, C. S. HollingAbstract
Bencana gempa bumi dengan kekuatan 7,4 skala Richter yang diikuti oleh tsunami dan likuifaksi telah terjadi di Kota Palu pada tanggal 28 September 2018, mengakibatkan disrupsi multidimensi yang ekstrem. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ketahanan masyarakat pasca-likuifaksi menggunakan konsep resiliensi C. S. Holling, serta menganalisis dinamika antara kebijakan pemerintah dan kemampuan adaptasi masyarakat di lapangan. Metode yang diterapkan adalah penelitian kualitatif deskriptif yang berbasis studi literatur, dengan mengolah data sekunder dari laporan resmi pemerintah, dokumen kebijakan, dan sumber-sumber ilmiah yang relevan. Hasil penelitian mengungkap bahwa bencana ini menyebabkan kerugian finansial yang sangat besar, mencapai Rp 18,48 triliun dan hilangnya mata pencaharian bagi 94.500 pekerja. Dalam menghadapi tantangan, masyarakat menunjukkan kemampuan resiliensi yang luar biasa melalui strategi adaptasi fisik, ekonomi, sosial, dan psikologis. Pemerintah turut serta dalam pemulihan melalui program relokasi tempat tinggal permanen dan dukungan pemulihan ekonomi berbasis prinsip Build Back Better. Namun, hambatan dalam pelaksanaan kebijakan ini masih muncul akibat isu legalitas lahan dan ketidakmerataan akses ekonomi di daerah relokasi. Berdasarkan analisis siklus adaptif Holling, saat ini masyarakat berada dalam fase reorganisasi, di mana modal sosial berfungsi sebagai fondasi utama untuk bertahan. Dengan demikian, kesimpulan yang diambil adalah bahwa ketahanan jangka panjang masyarakat Kota Palu sangat tergantung pada penyelesaian status lahan serta penyediaan fasilitas ekonomi di area relokasi agar penduduk tidak kembali ke lokasi berbahaya. Kolaborasi antara kebijakan mitigasi yang konsisten dan penguatan modal sosial lokal akan menjadi aspek penting dalam menciptakan komunitas yang tangguh secara berkelanjutan.
References
Agustian, Y. (2021). Likuefaksi. JITTER: Jurnal Ilmiah Teknologi Informasi Terapan, 8(1), 209–215. Bandung: Universitas Widyatama.
Amiruddin, A., & Lumbaa, Y. (2024). Kehancuran dan harapan baru: Gempa, tsunami dan likuifaksi di Palu Sulawesi Tengah 2018. TUTURAN: Jurnal Ilmu Komunikasi, Sosial dan Humaniora, 2(3), 252–259. Jakarta: Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Nalanda.
Chmutina, K., von Meding, J., Gaillard, J. C., & Bosher, L. (2021). Why natural disaster risk reduction should include resilience. International Journal of Disaster Risk Reduction, 63, 102431.
Dwiningtias, H., & Rahmat, H. K. (2025). Pembaharuan struktur bangunan pasca gempa Palu 2018 berbasis bangunan tahan gempa guna mewujudkan resiliensi infrastruktur dengan pendekatan build back better. Widya Acitya: Journal of Multidisciplinary Research, 1(1), 1–8.
Hasan, H. R., Rochayati, N., Riska, R., Sudrajad, M. M., & Anugrah, M. R. R. (2022). Analisis sosial ekonomi masyarakat huntap (Hunian Tetap) Tondo pasca relokasi bencana gempa bumi dan tsunami Palu 2018. Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan, 10(2), 255–264.
Imperiale, A. J., & Vanclay, F. (2021). Conceptualizing community resilience and the social dimensions of risk to overcome barriers to disaster risk reduction and sustainable development. Sustainability, 13(7), 3699.
Meerow, S., & Newell, J. P. (2019). Urban resilience for whom, what, when, where, and why? Urban Geography, 40(3), 309–329.
Mirzaqon, T. A., & Purwoko, B. (2017). Studi kepustakaan mengenai landasan teori dan praktik konseling expressive writing. Jurnal BK Unesa, 8(1).
Norris, F. H., Stevens, S. P., Pfefferbaum, B., Wyche, K. F., & Pfefferbaum, R. L. (2008). Community resilience as a metaphor, theory, set of capacities, and strategy for disaster readiness. American Journal of Community Psychology, 41, 127–150.
Sainuddin, S. (2022). Analisis dampak kerusakan infrastruktur akibat likuifaksi di Palu. Jurnal Azimut, 4(2), 78–84.
Satriawan, A. P., Mansur, S., & Ambo, N. (2023). Pengelolaan logistik dalam upaya penanganan pasca bencana alam, gempa bumi, tsunami dan likuifaksi di Kota Palu. Jurnal Kolaboratif Sains, 6(1).
Wilson, G. A., & Wilson, O. J. (2019). Assessing the resilience of human systems: A critical evaluation of universal and contextural resilience variables. Resilience, 7(2), 126–148.
Wiwin, & Nuraedah. (2022). Adaptasi sosial ekonomi pengungsi bencana likuifaksi di Kelurahan Balaroa Kecamatan Palu Barat Kota Palu. Jurnal Pendidikan Geosfer, 7(1), 16–26.
Moleong, L. J. (2017). Metodologi penelitian kualitatif (Edisi revisi). Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Imran, J. A. (2023). Resiliensi terhadap risiko bencana likuifaksi di Kota Palu Provinsi Sulawesi Tengah. Sumedang: Institut Pemerintahan Dalam Negeri.
Riansyah, F. (2024). Strategi percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi dampak bencana likuifaksi oleh Pemerintah Kota Palu Provinsi Sulawesi Tengah. Sumedang: Institut Pemerintahan Dalam Negeri.
Wirabuana, M. S. (2023). Strategi mitigasi terhadap bencana likuifaksi oleh Pemerintah Daerah Kota Palu Provinsi Sulawesi Tengah. Sumedang: Institut Pemerintahan Dalam Negeri.
ANTARA. (2020). Pemkot Palu inventarisir lahan huntap Petobo belum bersertifikat. Jakarta: ANTARA News.
Republika. (2018). Kerugian bencana di Sulteng meningkat jadi Rp18,48 triliun. Jakarta: PT Republika Media Mandiri.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Safaura Meysa Putri Adhiatsa, Nabila Naswa Zahra Rohima, Oktavia Kurnia Ramadhani, Nia Nur Qur’any Agustin, Fatma Anriyani Yusuf, Yunita Eka Dia Safitri, M. Noer Falaq Al Amin, Nuh Krama Hadianto

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.










This work is licensed under a