Pokoknya Ada Intertekstualitas dan Konstruksi Makna Politik dalam Tweet Balasan Anies Baswedan

Authors

  • Allaf Dzikrillah Universitas Paramadina
  • Muhammad Fajar Setiananda Universitas Paramadina
  • Edison Bonartua Hutapea Universitas Paramadina

DOI:

https://doi.org/10.61104/alz.v4i3.5693

Keywords:

Roland Barthes Semiotics, Intertextuality, Digital Political Communication, Political Satire, Social Media

Abstract

Penelitian ini menganalisis tweet balasan Anies Baswedan yang diunggah pada 31 Maret 2026 melalui akun @aniesbaswedan, yang hanya terdiri dari tiga kata: "Pokoknya ada…" Frasa tersebut merupakan kutipan terselubung dari pernyataan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya yang viral tiga hari sebelumnya dan telah menjadi simbol komunikasi birokrasi yang tidak transparan di ruang publik digital Indonesia. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana makna politik dikonstruksi secara berlapis dalam teks yang tampak sederhana tersebut. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif interpretatif dengan menerapkan dua metode analisis: semiotika dua tahap Roland Barthes dan analisis intertekstual. Data dikumpulkan melalui dokumentasi digital berupa screenshot tweet, pemberitaan media daring, dan data analitik keterlibatan publik. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada tataran denotasi tweet ini hanyalah respons kasual, namun pada tataran konotasi ia menyimpan tiga lapisan makna sekaligus: parodi terhadap gaya komunikasi birokrasi yang vague, humor self-deprecating tentang kondisi pasca-jabatan, dan ekspresi solidaritas kultural dengan audiens digital. Pada tataran mitos, tweet ini mendekonstruksi dua mitos yang berlawanan: mitos bahwa jawaban vague pejabat adalah hal yang lumrah, dan mitos bahwa politisi oposisi harus selalu mengkritik secara frontal. Penelitian ini berkontribusi pada kajian komunikasi politik digital di Indonesia dengan menunjukkan bahwa intertekstualitas dapat menjadi strategi komunikasi politik yang sangat efisien di era media sosial.

References

Adnan, M., & Mona, N. (2024). Strategi Komunikasi Politik Melalui Media Sosial oleh Calon Presiden Indonesia 2024. Politika: Jurnal Ilmu Politik, 15(1), 1–20. https://doi.org/10.14710/politika.15.1.2024.1-20

Allen, G. (2000). Intertextuality. Routledge.

Astuti, D. P., & Wulandari, L. (2025). Satire Media Sosial: Medium Baru Pembentukan Persepsi Politik Generasi Z. JISPO: Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, 15(1), 1–30. https://doi.org/10.15575/jispo.v15i1.43980

Barthes, R. (2012). Mitologi (N. Setiawan, Trans.). Kreasi Wacana.

Cangara, H. (2016). Komunikasi politik: Konsep, teori, dan strategi (Rev. ed.). Rajawali Pers.

Data analitik X. (2026, April 10). Engagement Metrics Tweet @aniesbaswedan (ID: 2038957140250144788) [Data set]. Platform X (Twitter).

Heryanto, G. G. (2018). Media komunikasi politik. IRCiSoD.

Ismoyo, S. L., & Basaevha, M. (2025). Analisis komunikasi politik satire Anies Baswedan di Instagram: Kajian semiotika Roland Barthes. Communications, 7(1), 104–127. https://journal.unj.ac.id/unj/index.php/communications/article/view/52717

Moleong, L. J. (2018). Metodologi penelitian kualitatif (Rev. ed.). PT Remaja Rosdakarya.

Mukodas, M., Mukhtar, R. H., Ekowati, A., Effendi, R., & Zistiana, W. (2025). Analisis semiotika Roland Barthes pada postingan bertema politik pada Instagram akun @Tempodotcom. Triangulasi: Jurnal Pendidikan Kebahasaan, Kesastraan, dan Pembelajaran, 5(2), 158–169. https://triangulasi-fkip.unpak.ac.id/index.php/triangulasi/article/view/40

Pamungkas, R. N., Permadi, D., & Florina, I. D. (2024). Strategi humor Gibran Rakabuming dalam komunikasi politik di media sosial X (Twitter). Jurnal Pemerintahan dan Politik, 9(3), 175–182. https://doi.org/10.36982/jpg.v9i3.4057

Piliang, Y. A. (2012). Semiotika dan hipersemiotika: Kode, gaya, & matinya makna. Matahari.

Rahmawati, C., Busri, H., & Badrih, M. (2024). Makna denotasi dan konotasi meme dalam media sosial Twitter: Kajian semiotika Roland Barthes. Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra, 10(2), 1244–1256. https://doi.org/10.30605/onoma.v10i2.3479

Reilly, I. (2013). From critique to mobilization: The Yes Men and the utopian politics of satirical fake news. International Journal of Communication, 7, 1243–1264.

Sobur, A. (2013). Semiotika komunikasi. PT Remaja Rosdakarya.

Suara.com. (2026, April 1). Asal-usul “pokoknya ada” yang viral dan jadi meme di media sosial. https://www.suara.com/lifestyle/2026/04/01/094643/asal-usul-pokoknya-ada-yang-viral-dan-jadi-meme-di-media-sosial

Talani, N. S. (2023). Problem tafsir semiotika dalam kajian media dan komunikasi: Sebuah tinjauan kritis. Bricolage: Jurnal Magister Ilmu Komunikasi, 9(1), 103–116. https://journal.ubm.ac.id/index.php/bricolage/article/view/3407

Thai, A. (2014, February 6). Political satire: Beyond the humor. The Harvard Crimson. https://www.thecrimson.com/article/2014/2/6/harvard-political-satire/

Downloads

Published

2026-05-01

How to Cite

Allaf Dzikrillah, Muhammad Fajar Setiananda, & Edison Bonartua Hutapea. (2026). Pokoknya Ada Intertekstualitas dan Konstruksi Makna Politik dalam Tweet Balasan Anies Baswedan. Al-Zayn : Jurnal Ilmu Sosial & Hukum, 4(3), 3077–3088. https://doi.org/10.61104/alz.v4i3.5693

Issue

Section

Articles