Pengaruh Toxic Masculinity terhadap Pola Komunikasi Ayah dan Anak
DOI:
https://doi.org/10.61104/alz.v4i3.5565Keywords:
Toxic masculinity, komunikasi keluarga, kontruksi sosialAbstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh txic masculinity terhapad pola komunikasi antara ayah dan anak dalam keluarga. Fenomena toxic masculinity dipahami sebagai kontruksi sosial dalam budaya patriarki yang membentuk laki-laki untuk bersikap dominan, emosional, dan menghindari ekspresi perasaan. Pada penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam kepada sebagian anak sebagai informan utama dan orang tua sebagai informan pendukung. Analisis data dilakukan melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa toxic masculinity membentuk pola komunikasi yang kaku, hierarkis, dan cenderung satu arah antara anak dan ayah. Ayah lebih banyak berperan sebagai figur otoritatif dibandingkan sebagai sosok yang memberikan dukungan emosional. Kondisi ini menimbulkan jarak psikologis, rendahnya kedekatan emosional, serta keterbatasan komunikasi dalam keluarga. Dampak yang muncul meliputi ketidakharmonisan dalam hubungan keluarga, rendahnya rasa percaya diri anak, kesulitan dalam interaksi sosial, hingga potensi perilaku menyimpang. Penelitian ini menegaskan bahwa kontruksi maskulinitas yang tidak sehat dapat menghambat kualitas relasi keluarga, sehingga diperlukan pemahaman yang lebih kritis terhadap peran ayah dalam membangun komunikasi yang terbuka dan suportif.
References
Asmanidar. (2021). Suluk dan perubahan perilaku sosial salik (Telaah teori konstruksi sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckmann). Abrahamic Religions: Jurnal Studi Agama-Agama, 1(1). https://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/abrahamic/article/view/9488
Awaru, A. O. T. (2021). Sosiologi keluarga. Dalam A. O. T. Awaru, Sosiologi keluarga (hlm. 2–5). Penerbit Media Sains Indonesia.
Content Writer Jawa Tengah. (2025). Kemendukbangga rilis data fatherless di Indonesia. BKKBN. https://jateng.kemendukbangga.go.id/posts/1630fad8-ca02-4c10-a068-9a46df339684-kemendukbangga-rilis-data-fatherless-di-indonesia-jawa-tengah-di-bawah-angka-nasional
Inah, E. N. (2013). Peran komunikasi dalam pendidikan. Al-Ta’dib, 178–179.
Kusnandar, J. H. (2023). Stigma maskulinitas di tengah budaya patriarki: Analisis teori solidaritas sosial Emile Durkheim. Lentera: Journal of Gender and Children Studies, 27–29.
Moleong, L. J. (2021). Metodologi penelitian kualitatif. Rosda.
Ngangi, C. R. (2011). Konstruksi sosial dalam realitas sosial. ASE Journal, 1–2.
Rahayu, D. A., Wahyuni, & Anggariani, D. (2024). Dampak fatherless terhadap anak perempuan (studi kasus mahasiswa UIN Alauddin Makassar). Jurnal Macora.
Ramdani, M. F. F., Putri, A. V. I. C., & Wisesa, P. A. D. (2022). Realitas toxic masculinity di masyarakat. Dalam Seminar Nasional Ilmu-ilmu Sosial (SNIIS) (hlm. 231–232).
Yulyasari, E. (2025). Hubungan anak remaja perempuan dengan ayah dalam isu fatherless (Studi di Kota Bandar Lampung) (Skripsi). Universitas Lampung.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Nifa Azzahra, Cendana Jihan Noegroho, Ina Elina, Sri Damayanti

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.









This work is licensed under a