Aktivitas Wanita Dalam Masa Iddah Di Media Sosial Ditinjau Dari Kompilasi Hukum Islam Pasal 170 Dan Perspektif Maqāṣid Syarīʿah
DOI:
https://doi.org/10.61104/alz.v4i3.5476Keywords:
Iddah; Batasan Wanita dalam Iddah; Media Sosial; KHI Pasal 170; Maqāṣid SyarīahAbstract
Penelitian ini mengkaji aktivitas wanita dalam masa iddah di media sosial ditinjau dari Kompilasi Hukum Islam (KHI) Pasal 170 dan perspektif Maqāṣid Syarīah, dengan fokus pada lima maqāṣid pokok: ḥifẓ al-dīn, ḥifẓ al-nafs, ḥifẓ al-aql, ḥifẓ al-nasl, dan ḥifẓ al-māl. Penelitian ini menggunakan metode library research (studi kepustakaan) dengan pendekatan yuridis-normatif, yang mengkaji dan menganalisis sumber-sumber primer berupa nash Al-Qur'an, hadis Nabi, kitab-kitab fikih klasik, peraturan perundang-undangan Indonesia, serta sumber-sumber sekunder berupa jurnal ilmiah, buku, dan fatwa ulama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KHI Pasal 170 menetapkan kewajiban masa berkabung bagi janda yang ditinggal mati suaminya dengan dua tujuan utama: penghormatan kepada almarhum dan kepastian nasab. Selain ketentuan pokok tersebut, wanita dalam masa iddah juga terikat pada pembatasan-pembatasan syariat yang bersifat komprehensif, meliputi larangan menikah, larangan menerima khitbah, larangan meninggalkan rumah kecuali karena dharurat, kewajiban ihdad (berkabung) yang mencakup larangan berhias, memakai wewangian, dan mengenakan pakaian mencolok. Dari perspektif Maqāṣid Syarīah, aktivitas media sosial yang bersifat tabarruj (berhias berlebihan secara digital), mencari perhatian lawan jenis, menggunakan aplikasi perjodohan, atau menampilkan konten yang tidak mencerminkan kondisi berkabung. Penelitian ini menyimpulkan perlunya panduan komprehensif tentang iddah digital yang mengintegrasikan ketentuan normatif syariat dengan tantangan era media sosial.
References
A. Sumber Hukum Primer
Al-Qur'an al-Karim dan Terjemahannya. (2019). Al-Qur'an dan Terjemahnya. Jakarta: Kementerian Agama Republik Indonesia.
Kompilasi Hukum Islam (KHI). (1991). Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 tentang Penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam. Jakarta: Sekretariat Negara Republik Indonesia.
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 1. Jakarta.
B. Kitab Hadis
Al-Bukhari, M. I. (2001). Shahih al-Bukhari. Riyadh: Dar al-Salam.
Muslim, I. al-H. (2000). Shahih Muslim. Riyadh: Dar al-Salam.
C. Kitab Fikih dan Ushul Fikih
Al-Jaziri, A. al-R. (2003). Al-Fiqh 'ala al-Madzahib al-Arba'ah (Jilid 4). Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.
Al-Nawawi, Y. I. S. (1995). Rawdhat al-Thalibin wa 'Umdat al-Muftin. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.
Al-Raysuni, A. (1995). Nazhariyyat al-Maqashid 'ind al-Imam al-Syathibi. Herndon: IIIT.
Al-Syatibi, I. I. M. (2004). Al-Muwafaqat fi Ushul al-Syari'ah. Beirut: Dar Ibn Hazm.
Al-Zuhaili, W. (2011). Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu (Jilid 9). Damaskus: Dar al-Fikr.
Ibn 'Asyur, M. al-T. (2001). Maqashid al-Syari'ah al-Islamiyyah. Amman: Dar al-Nafais.
Ibn Qudamah, A. I. A. (1997). Al-Mughni. Riyadh: Dar 'Alam al-Kutub.
D. Buku
Auda, J. (2008). Maqasid al-Shariah as Philosophy of Islamic Law: A Systems Approach. London: IIIT.
Kamali, M. H. (2008). Maqasid al-Shariah Made Simple. London: IIIT.
Marzuki, P. M. (2016). Penelitian Hukum (Edisi Revisi). Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Mulia, S. M. (2014). Islam dan Hak Asasi Manusia: Konsep dan Implementasi. Jakarta: Naufan Pustaka.
Nasution, K. (2002). Status Wanita di Asia Tenggara: Studi terhadap Undang-Undang Perkawinan Muslim Kontemporer di Indonesia dan Malaysia. Jakarta: INIS.
Shihab, M. Q. (2007). Wawasan Al-Qur'an: Tafsir Tematik atas Pelbagai Persoalan Umat. Bandung: Mizan.
Soekanto, S., & Mamudji, S. (2015). Penelitian Hukum Normatif: Suatu Tinjauan Singkat. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Syarifuddin, A. (2014). Hukum Perkawinan Islam di Indonesia: Antara Fiqh Munakahat dan Undang-Undang Perkawinan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
E. Jurnal Ilmiah
Abdullah, A. (2020). Iddah dalam Perspektif Maqashid Syariah. Jurnal Al-Manahij, 14(2), 187–200. https://doi.org/10.24090/mnh.v14i2.2020
Faizah, S. N. (2019). Masa Iddah bagi Perempuan dalam Perspektif Hukum Islam dan Hukum Positif di Indonesia. Jurnal Hukum Keluarga Islam, 5(1), 45–62. https://doi.org/10.15642/jhki.2019.5.1.45-62
Hanifah, U., & Azizah, N. (2021). Media Sosial dan Hukum Islam: Analisis Maqashid Syariah terhadap Penggunaan Media Sosial. Jurnal Studi Islam, 16(2), 213–230. https://doi.org/10.23971/jsi.v16i2.2021
Muhajir, A. (2018). Rekonstruksi Hukum Iddah di Era Digital. Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syariah dan Hukum, 3(1), 89–106. https://doi.org/10.22515/al-ahkam.v3i1.2018
Rahman, A. A. (2017). Hifzh al-ʿIrdh: Kajian Konseptual dan Implementasinya dalam Hukum Islam. Jurnal Syariah, 25(1), 67–84.
F. Sumber Wawancara
Dewi Sartika. (2026). Wawancara tentang Aktivitas Media Sosial Selama Masa Iddah. Stabat, Kabupaten Langkat,
Fitriani. (2026). Wawancara tentang Aktivitas Media Sosial Selama Masa Iddah. Stabat, Kabupaten Langkat,
Heri, Ustadz. (2026). Wawancara tentang Implementasi Iddah di KUA Stabat. KUA Kecamatan Stabat, Kabupaten Langkat,
Khairil, Ustadz. (2026). Wawancara tentang Implementasi Iddah di KUA Stabat. KUA Kecamatan Stabat, Kabupaten Langkat,
Marlina. (2026). Wawancara tentang Aktivitas Media Sosial Selama Masa Iddah. Stabat, Kabupaten Langkat,
Nurhayati. (2026). Wawancara tentang Aktivitas Media Sosial Selama Masa Iddah. Stabat, Kabupaten Langkat.
Siti Rahmah. (2026). Wawancara tentang Aktivitas Media Sosial Selama Masa Iddah. Stabat, Kabupaten Langkat.
G. Fatwa dan Dokumen Resmi
Majelis Ulama Indonesia. (2017). Fatwa MUI Nomor 24 Tahun 2017 tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah Melalui Media Sosial. Jakarta: MUI.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Fadil, Ahmad Zuhri Rangkuti

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.









This work is licensed under a