Upaya Hukum Terhadap Implementasi Asas Ne Bis In Idem Dalam Putusan Nomor 1922 K/Pdt/2023
DOI:
https://doi.org/10.61104/alz.v3i6.2852Keywords:
Perjanjian Sewa Guna Usaha; Upaya Hukum; Ne Bis In IdemAbstract
Putusan Mahkamah Agung No. 1922 K/Pdt/2023 terkait pembatalan perjanjian sewa guna usaha secara sepihak antara kreditur dan debitur, diputus dengan mempertimbangkan asas ne bis in idem. Implementasi tersebut membatasi akses keadilan bagi debitur yang menderita kerugian akibat tindakan sepihak oleh kreditur. Upaya hukum luar biasa peninjauan kembali tidak dapat ditempuh karena perkara tersebut tidak memenuhi persyaratan formal dan materiil berdasarkan hukum acara yang berlaku. Dari pemaparan tersebut maka tujuan studi ini yaitu menganalisis upaya hukum yang tersedia yang berkaitan dengan diterapkannya prinsip ne bis in idem dalam Putusan Nomor 1922 K/Pdt/2023. Studi ini menerapkan metode penelitian normatif dengan pendekatan doktrin dan konseptual, memeriksa ketentuan undang-undang, doktrin hukum, dan yurisprudensi yang relevan. Studi ini menekankan bahwa gugatan baru tetap diperbolehkan selama ada objek atau hubungan hukum yang berbeda, konsisten dengan interpretasi yudisial yang berlaku di Indonesia dan belum pernah diputus sebelumnya.
References
Abdul raof, n., abdul aziz, n., omar, n., othman, r., & salleh, h. M. (2025). Exploring the depths: a comparative analysis of doctrinal and non-doctrinal legal research. International journal of research in social science and humanities, 6(5), 122–129.
Alexander wewo, j., & naatonis, m. (2023). Application of the ne bis in idem principle by judges to civil cases. Jatiswara, 38(3), 255–264.
Allen, j. (2018). Doctrinal reasoning as a disruptive practice. Journal of law and courts, 6(2), 215–236.
Bhat, p. I. (2020). Doctrinal legal research as a means of synthesizing facts, thoughts, and legal principles. In idea and methods of legal research (pp. 143–168). Oxford university press delhi.
Coffey, g. (2023). An interpretative analysis of the european ne bis in idem principle through the lens of echr, cfr and cisa provisions: are three streams flowing in the same channel? New journal of european criminal law, 14(3), 345–373.
Echr. (2022). Guide on article 2 of protocol no. 1 to the european convention on human rights – right to education. European court of human rights, 1–37.
Eurojust. (2024). The principle of ne bis in idem in criminal matters in the case law of the court of justice of the european union. February.
Hikmah, n. (2022). Penerapan asas ne bis in idem dalam putusan perdata (studi analisis putusan mahkamah agung nomor 3320 k/pdt/2018). Novum: jurnal hukum, 4(2), 234–248.
Hulu, k. I. (2025). Penerapan asas ne bis in idem dalam perkara perdata di indonesia.
Jurnal education and development, 13(1), 671–676.
Hutchinson, t., & duncan, n. (2012). Defining and describing what we do: doctrinal legal research. Deakin law review, 17(1), 83–119.
Kasih, e., ruslaini, r., irawati, j., & purba, l. (2024). The analysis of petition, ne bis in idem, pacta sunt servanda in the bankruptcy law in indonesia. Ssrn electronic journal.
Melatyugra, n., rauta, u., & wauran, i. (2021). The indonesian constitutional court's overruling on the corruption issues. Jurnal konstitusi, 18(2), 368–390.
Nahruddin, rahman, s., & makkuasa, a. (2023). Penerapan asas ne bis in idem dalam perkara perdata: telaah putusan nomor 352/pdt.g/2019/pa.mrs. Journal of lex generalis (jls), 4(352), 50–65.
Oshlyansky, l., cairns, p., sasse, a., & harrison, c. (2008). The challenges faced by academia preparing students for industry: what we teach and what we do. Proceedings of the 22nd british hci group annual conference on people and computers: culture, creativity, interaction, bcs hci 2008, 2(1988), 203–204.
Pinatih, n. K. W. A. (2024). Asas res judicata pro veritate habetur dalam peninjauan kembali terhadap putusan lepas dari segala tuntutan hukum oleh jaksa penuntut umum. Justitia et pax, 40(1), 135–163.
Poli, v., tampongangoy, g. H., & karwur, g. M. F. (2021). Analisis yuridis implementasi asas ne bis in idem dalam perkara perdata (studi kasus putusan nomor: 145/pdt.g/2017/pn.thn). Lex privatum, 71(1), 63–71.
Pratiani, o. R. P., & kartika, a. W. (2024). Rekonstruksi kedudukan amicus curiae dalam hukum acara pidana di indonesia: analisis putusan pengadilan negeri no. 798/pd.b/2022/pn.jkt.sel. Perspektif, 29, 110–122.
Sabilia, f. (2024). Tinjauan yuridis terhadap asas ne bis in idem dalam perbuatan pemalsuan surat. Rechtsnormen: jurnal komunikasi dan informasi hukum, 2(2), 50–59.
Setiawan, a., junaidi, a., khaerudin, a., & yudanto, d. (2023). Penerapan asas ne bis in idem yang diajukan di peradilan berbeda berdasarkan asas contante justitie. Ajudikasi: jurnal ilmu hukum, 7(2), 191–210.
Van hoecke, m., & ost, f. (2011). Methodologies of legal research: which kind of method for what kind of discipline? Bloomsbury academic.
Wijaya, d. W. (2025). Pertentangan asas res judicata pro veritate habetur dengan asas presumption of innocence dalam peradilan pidana. Iblam law review, 5(1), 15–24.
Setiawan, i ketut oka. 2020. Hukum perikatan. Jakarta: sinar grafika. Zainal, asikin, h. 2019. Hukum acara perdata di indonesia. Prenada media.
Mahkamah agung republik indonesia. (2002). Surat edaran mahkamah agung (sema) no. 3 tahun 2002.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Kania Salsa Nabila, Ahmad Zazili, Kasmawati

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.









This work is licensed under a