Analisis Yuridis Terhadap Fenomena Overstayer Di Indonesia Dalam Menempuh Refugee Status Determination

Authors

  • Sarina Riyadi Program Studi Hukum Keimigrasian, Politeknik Pengayoman Indonesia
  • M. Alvi Syahrin Program Studi Hukum Keimigrasian, Politeknik Pengayoman Indonesia
  • Maidah Purwanti Program Studi Hukum Keimigrasian, Politeknik Pengayoman Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.61104/alz.v3i6.2131

Keywords:

Izin Tinggal, Pengungsi, UNHCR

Abstract

Fenomena overstayer yang secara strategis memanfaatkan prosedur Refugee Status Determination (RSD) di Indonesia. Meskipun Indonesia menampung lebih dari 12.000 pengungsi sebagai negara transit, kerangka hukumnya masih belum komprehensif, menciptakan celah yang memungkinkan penyalahgunaan. Permasalahan utama terletak pada ketegangan normatif antara Pasal 78 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian, yang mengatur penegakan hukum bagi overstayer, dan Peraturan Direktur Jenderal Imigrasi IMI-0352.GR.02.07-2016, yang memberikan pengecualian bagi pengungsi. Dengan menggunakan pendekatan hukum normatif dan analisis deskriptif analitis, penelitian ini mengidentifikasi bahwa konflik regulasi ini berbenturan dengan tiga tujuan hukum yakni kepastian hukum, keadilan, dan kemanfaatan. Penegakan hukum yang tidak tegas mengikis kepastian hukum dan kemanfaatan, sementara prinsip keadilan dikorbankan. Selain itu, penelitian menemukan kelemahan prosedural dalam mekanisme resettlement yang bersifat sukarela, serta ketiadaan koordinasi yang efektif dan pertukaran data antara Direktorat Jenderal Imigrasi dan UNHCR. Kerangka hukum Indonesia saat ini belum mampu menyeimbangkan kedaulatan negara dengan kewajiban perlindungan kemanusiaan. Penelitian ini merekomendasikan reformasi regulasi, peningkatan koordinasi antar-lembaga, dan optimalisasi prosedur RSD untuk mengatasi celah hukum dan prosedural yang ada.

References

Afriansyah, A., Purnama, H. R., & Putra, A. K. (2022). Asylum Seekers and Refugee Management: (Im)Balance Burden Sharing Case between Indonesia and Australia. Sriwijaya Law Review, 6(1), 70–100. https://doi.org/10.28946/slrev.Vol6.Iss1.1145.pp70-100

Arthur - Ewusie, E. (2024). Has the Non -refoulement Principle Acquired Customary Status in International Law? SSRN Electronic Journal, 26. https://doi.org/10.2139/ssrn.4824240

Campbell, J. R. (2016). Asylum v. sovereignty in the 21st century: how nation-states breach international law to block access to asylum. International Journal of Migration and Border Studies, 2(1), 24. https://doi.org/10.1504/ijmbs.2016.074636

Castles, S., Cubas, M. A., Kim, C., & Ozkul, D. (2012). Irregular Migration: Causes, Patterns, and Strategies. In Global Perspectives on Migration and Development (pp. 117–151). https://doi.org/10.1007/978-94-007-4110-2_9

Damhuri, T. (2021). Factors That Influence Success or Failure of Coordination Practices in the Central Government of Indonesia. https://doi.org/https://doi.org/10.26191/ttcm-6s35

Dewansyah, B., Dramanda, W., & Mulyana, I. (2017). Asylum Seekers In A Non-Immigrant State And The Absence Of Regional Asylum Seekers Mechanism: A Case Study Of Rohingya Asylum Seekers In Aceh-Indonesia And Asean Response. Indonesia Law Review, 7(3), 341–366. https://doi.org/10.15742/ilrev.v7n3.373

Guild, E. (2013). Security and Migration in the 21st Century. Cambridge: John Wiley & Sons.

Hariri, A., & Babussalam, B. (2024). Legal Pluralism: Concept, Theoretical Dialectics, and Its Existence in Indonesia. Walisongo Law Review (Walrev), 6(2), 146–170. https://doi.org/10.21580/walrev.2024.6.2.25566

Janmyr, M. (2019). The 1951 Refugee Convention and Non-Signatory States: Charting a Research Agenda. International Journal of Refugee Law, 33(2), 188–213. https://doi.org/10.1093/ijrl/eeab043

Missbach, A. (2019). Asylum seekers’ and refugees’ decision-making in transit in Indonesia: The need for in-depth and longitudinal research. Bijdragen Tot de Taal-, Land- En Volkenkunde, 175(4), 419–445. https://doi.org/10.1163/22134379-17504006

Mouzourakis, M. (2017). Accelerated, prioritised and fast-track asylum procedures Legal frameworks and practice in Europe. European Council on Refugees and Exiles, 2(1), 1–17. Retrieved from https://coilink.org/20.500.12592/vj1v7q

Nordin, R., Nor, N., & Rofiee, R. (2021). Ineffective Refugee Status Determination Process: Hindrance To Durable Solution For Refugees Rights And Protection. Indonesia Law Review, 11(1), 73–91. https://doi.org/10.15742/ilrev.v11n1.687

Syaban, A. S. N., & Appiah-Opoku, S. (2023). Building Indonesia’s new capital city: an in-depth analysis of prospects and challenges from current capital city of Jakarta to Kalimantan. Urban, Planning and Transport Research, 11(1).

Syahrin, M. A. (2017). The implementation of non-refoulement principle to the Asylum seekers and refugees in Indonesia. Sriwijaya Law Review, 1(2), 168–178. https://doi.org/10.28946/slrev.Vol1.Iss2.41.pp168-178

Thompson, L. (2013). Protection of migrants’ rights and state sovereignty. UN Chronicle, 50(3), 8–11. https://doi.org/10.18356/57e51f0e-en

Downloads

Published

2025-12-12

How to Cite

Sarina Riyadi, M. Alvi Syahrin, & Maidah Purwanti. (2025). Analisis Yuridis Terhadap Fenomena Overstayer Di Indonesia Dalam Menempuh Refugee Status Determination. Al-Zayn : Jurnal Ilmu Sosial & Hukum, 3(6), 10432–10439. https://doi.org/10.61104/alz.v3i6.2131

Issue

Section

Articles