Peran Organisasi Masyarakat Sipil dalam Tata Kelola Kota Bogor: Studi Jaringan Kerja Pemetaan Partisipatif dalam Mendorong Partisipasi Publik
DOI:
https://doi.org/10.61104/alz.v4i4.7458Keywords:
Pemetaan Partisipatif, Partisipasi Publikk, Politik PerkotaanAbstract
Minimnya penerapan meaningful participation dalam pembangunan dan tata kelola ruang perkotaan pada akhirnya menimbulkan berbagai permasalahan, terutama terkait dengan keterlibatan warga dalam pengambilan keputusan publik. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peranan Jaringan Kerja Pemetaan Partisipatif (JKPP) dalam meningkatkan keterlibatan masyarakat di Kota Bogor. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus deskriptif melalui wawancara dan pengumpulan dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa JKPP berkontribusi dalam meningkatkan partisipasi publik melalui praktik pemetaan partisipatif, di mana masyarakat dilibatkan dalam proses identifikasi area, pengumpulan data geografis, pendokumentasian pengetahuan lokal, dan peningkatan kesadaran bersama tentang hak atas ruang hidup. Aktivitas ini memperkuat posisi masyarakat dalam pengelolaan kota dan membuka jalur komunikasi antara masyarakat dengan pemerintah. Namun, hasil dari gerakan pemetaan partisipatif di Kota Bogor masih terbatas pada peta indikatif untuk wilayah kelola rakyat serta basis data spasial komunitas, dan belum menghasilkan produk hukum yang jelas seperti peraturan daerah, keputusan wali kota, atau bentuk pengakuan resmi lainnya. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa pemetaan partisipatif memiliki potensi untuk memperkuat demokrasi lokal dan mendorong pengelolaan kota yang lebih inklusif. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada adanya pengakuan hukum yang sesuai terhadap data dan peta yang dihasilkan oleh masyarakat.
References
Afiff, S., Fauzan, A., Hartono, D., & Riyanto, S. (2014). Pengakuan wilayah kelola rakyat: Kebijakan dan praktik pemetaan partisipatif di Indonesia. JKPP.
Arnstein, S. R. (1969). A ladder of citizen participation. Journal of the American Institute of Planners, 35(4), 216–224. https://doi.org/10.1080/01944366908977225
Chambers, R. (1994). Participatory rural appraisal (PRA): Analysis of experience. World Development, 22(9), 1253–1268. https://doi.org/10.1016/0305-750X(94)90003-5
Harley, J. B. (1989). Deconstructing the map. Cartographica, 26(2), 1–20. https://doi.org/10.3138/E635-7827-1757-9T53
Peluso, N. L. (1995). Whose woods are these? Counter-mapping forest territories in Kalimantan, Indonesia. Antipode, 27(4), 383–406. https://doi.org/10.1111/j.1467-8330.1995.tb00286.x
Rambaldi, G., Chambers, R., McCall, M., & Fox, J. (2006). Practical ethics for PGIS practitioners, facilitators, technology intermediaries and researchers. Participatory Learning and Action, 54(1), 106–113.
Rohman, N., Nurhayati, A., & Prakasita, A. W. (2023). Mendorong akuntabilitas birokrasi, membuka ruang politik: Pelibatan warga melalui layanan pengaduan dalam tata kelola perkotaan. Jurnal Politik Walisongo, 5(2), 190–211. https://doi.org/10.21580/jpw.v5i2.17538
Sieber, R. (2006). Public participation geographic information systems: A literature review and framework. Annals of the Association of American Geographers, 96(3), 491–507. https://doi.org/10.1111/j.1467-8306.2006.00702.x
Solihah, R., Witianti, S., & Hendra. (2018). Partisipasi publik dalam penataan ruang kawasan perkotaan di Indonesia. CosmoGov: Jurnal Ilmu Pemerintahan, 4(2), 210–227. https://doi.org/10.24198/cosmogov.v4i2.16086
Tampubolon, D., Kornita, S. E., & Afriyanni. (2022). Pembangunan masyarakat perkotaan berkelanjutan: Perspektif partisipasi komunitas pada program kota. Jurnal Kebijakan Publik, 13(1), 9-16. http://dx.doi.org/10.31258/jkp.v13i1.7962
Laal, M. (2011). Knowledge Management in Higher Education. Procedia Computer Science, 3, 544–549.
Budiyanto, M. A. K., Waluyo, L., & Mokhtar, A. (2016). Implementasi Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran di Pendidikan Dasar di Malang. Proceeding Biology Education Conference, 13(1), 48.
Cooke, B., & Kothari, U. (Eds.). (2001). Participation: The new tyranny? Zed Books.
Dwipayana, A. A. G. N., & Eko, S. (2003). Membangun good governance di desa. IRE Press.
Fung, A., & Wright, E. O. (2003). Thinking about empowered participatory governance. Dalam A. Fung & E. O. Wright (Ed.), Deepening democracy: Institutional innovations in empowered participatory governance. London: Verso.
Henri Lefebvre. (1996). Writings on cities. Oxford: Blackwell Publishers.
Robert D. Putnam. (1993). Making democracy work: Civic traditions in modern Italy. Princeton: Princeton University Press.
Scott, J. C. (1998). Seeing like a state: How certain schemes to improve the human condition have failed. Yale University Press.
Sherry R. Arnstein. (1969). A ladder of citizen participation. Journal of the American Planning Association, 35(4), 216–224.
Social Movements, 1768–2004. (2004). Social movements, 1768–2004. Boulder: Paradigm Publishers.
Soja, E. W. (2010). Seeking spatial justice. University of Minnesota Press.
Tilly, C. (2004). Social movements, 1768–2004. Paradigm Publishers.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Cipta Damai Arya Cudu, Gendis Dewantari, Siti Afra Aafiyah, Aniqotul Ummah, Teddy Chrisprimanata Putra

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.










This work is licensed under a