https://ejournal.yayasanpendidikandzurriyatulquran.id/index.php/qosim/issue/feedQOSIM : Jurnal Pendidikan Sosial & Humaniora2026-06-17T22:08:52+07:00Dr (Cand) Hasan Syahrizal, M.Pd.ejournal@yayasanpendidikandzurriyatulquran.idOpen Journal Systems<p>E-ISSN 2987-713X P-ISSN 3025-5163 Prefix DOI 10.61104. adalah jurnal akses terbuka yang ditinjau oleh rekan sejawat yang mengikuti kebijakan double blind review. Artikel ilmiah dalam QOSIM: Jurnal Pendidikan, Sosial & Humaniora merupakan hasil penelitian orisinil, gagasan konseptual, dan kajian mutakhir dalam lingkup; Ilmu Pendidikan, Ekonomi Islam, Manajemen, Studi Agama, Filsafat, Hukum dan penelitian yang relevan.</p>https://ejournal.yayasanpendidikandzurriyatulquran.id/index.php/qosim/article/view/8741Peran Promosi Penjualan dan Personal Selling Terhadap Volume Penjualan Retail Modern2026-06-17T16:17:53+07:00Nurlatifahnurlatifah.batam18@gmail.com<p><em>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran promosi penjualan dan personal selling terhadap volume penjualan retail modern di Kota Batam. Lanskap retail modern menghadapi persaingan yang semakin ketat seiring dengan perkembangan teknologi digital dan perubahan perilaku konsumen, sehingga strategi pemasaran yang efektif menjadi kebutuhan mendesak bagi pelaku retail untuk mempertahankan dan meningkatkan volume penjualan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei terhadap 80 responden yang terdiri dari pelanggan retail modern di Kota Batam yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner dengan skala Likert lima poin, sedangkan analisis data menggunakan regresi linier berganda, uji t, uji F, dan koefisien determinasi melalui bantuan software SPSS versi 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa promosi penjualan berpengaruh positif dan signifikan terhadap volume penjualan retail modern dengan nilai t-hitung sebesar 3,452 dan nilai signifikansi 0,001. Personal selling juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap volume penjualan retail modern dengan nilai t-hitung sebesar 4,128 dan nilai signifikansi 0,000. Secara simultan, promosi penjualan dan personal selling berpengaruh signifikan terhadap volume penjualan retail modern dengan nilai F-hitung sebesar 28,743 dan nilai signifikansi 0,000. Koefisien determinasi menunjukkan bahwa promosi penjualan dan personal selling mampu menjelaskan variasi volume penjualan sebesar 42,8%, sedangkan 57,2% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya integrasi strategi promosi penjualan dan personal selling yang sinergis bagi pelaku retail modern untuk mengoptimalkan volume penjualan dalam menghadapi kompetisi pasar yang dinamis</em></p>2026-06-17T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Nurlatifahhttps://ejournal.yayasanpendidikandzurriyatulquran.id/index.php/qosim/article/view/8742Islamic Worldview in Science2026-06-17T16:36:46+07:00Sudirman Anwarsudirman.anwar@gmail.comSaid Maskursaid.maskur@gmail.comMuhammad Faisalfaisal@stainkepri.ac.id<p><em>Artikel ini mengkaji transformasi paradigma ilmu dalam perspektif Islamic worldview di tengah era disrupsi digital, dengan fokus pada analisis kritis terhadap dikotomi ilmu agama dan ilmu umum serta rekonstruksi epistemologi integratif yang berbasis pada tauhid. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka dan analisis hermeneutis terhadap literatur akademis kontemporer mengenai islamisasi ilmu, integrasi sains-agama, dan epistemologi Islam. Kerangka teoretis penelitian mengintegrasikan konsep Islamisasi Ilmu Al-Faruqi, de-westernization of knowledge Al-Attas, dan sacred science Nasr untuk membangun model analisis transformasi paradigma ilmu yang holistik. Hasil analisis menunjukkan bahwa: (1) dikotomi ilmu agama dan ilmu umum merupakan warisan epistemologis kolonial yang terus berlanjut dalam sistem pendidikan Islam kontemporer dan diperparah oleh logika disrupsi digital yang cenderung sekular-materialistis; (2) paradigma sains bebas nilai yang menjadi fondasi ilmu pengetahuan modern mengalami krisis etis yang signifikan, terutama dalam konteks perkembangan teknologi digital yang menimbulkan problem dehumanisasi dan disorientasi pengetahuan; (3) rekonstruksi epistemologi Islam yang integratif, dengan menjadikan tauhid sebagai dasar ontologis dan epistemologis, mampu menawarkan paradigma alternatif yang mengharmoniskan dimensi spiritual dan rasional dalam pengembangan ilmu pengetahuan di era digital. Artikel ini mengusulkan model transformasi paradigma ilmu berbasis Islamic worldview yang terdiri dari empat dimensi: ontologis, epistemologis, aksiologis, dan teleologis, sebagai kontribusi teoretis bagi pengembangan ilmu pengetahuan yang bermoral dan bermakna di era Society 5.0</em></p>2026-06-17T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Sudirman Anwar, Said Maskur, Muhammad Faisalhttps://ejournal.yayasanpendidikandzurriyatulquran.id/index.php/qosim/article/view/8744Moderasi Beragama dalam Perspektif Maqasid al-Shariah2026-06-17T16:56:44+07:00Fithri Mehdini Addieningrummehdinifithri12@gmail.comMuhammad Faisalfaisal@stainkepri.ac.id<p><em>Moderasi beragama telah menjadi agenda strategis nasional Indonesia dalam menghadapi ancaman radikalisme yang kini semakin bermigrasi ke ruang digital. Artikel ini menganalisis moderasi beragama melalui perspektif maqasid al-shariah sebagai kerangka normatif-teleologis yang menyediakan fondasi filosofis bagi praktik moderasi beragama, sekaligus merespons tantangan radikalisme digital yang mengancam kelima daruriyyat (perlindungan fundamental) dalam maqasid. Melalui pendekatan kualitatif-deskriptif dengan analisis literatur sistematis, penelitian ini mengembangkan kerangka kerja komprehensif lima dimensi yang mencakup dimensi teologis-normatif (hifz al-din), digital-teknologis (hifz al-'aql), sosiologis-komunitas (hifz al-nasl), institusional-struktural (hifz al-mal), dan kultural-identitas (hifz al-nafs). Temuan menunjukkan bahwa radikalisme digital secara sistematis mengancam seluruh daruriyyat melalui mekanisme distorsi teologis, manipulasi algoritmik, fragmentasi sosial, kooptasi institusional, dan erosi identitas moderat. Model transformasi empat fase yang dikembangkan terdiri dari identifikasi, mitigasi, resiliensi, dan transformasi, memberikan peta jalan operasional bagi institusi keagamaan. Studi kasus terhadap Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan Kementerian Agama RI mengungkapkan keragaman pendekatan dan tantangan kontekstual. Analisis kritis mengidentifikasi empat risiko utama: reduksi maqasid menjadi formalisme, disinformasi dan algoritma radikalisasi, eksklusionisme komunitas, dan kooptasi politis. Artikel ini berkontribusi pada pengembangan model moderasi beragama berbasis maqasid yang responsif terhadap dinamika radikalisme digital</em></p>2026-06-17T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Fithri Mehdini Addieningrum, Muhammad Faisalhttps://ejournal.yayasanpendidikandzurriyatulquran.id/index.php/qosim/article/view/8746Integrasi Ilmu Agama Dan Sains Modern Dalam Pendidikan Tinggi Islam2026-06-17T17:53:05+07:00Dukhroini Alisudirman.anwar@gmail.comMuhammad Faisalfaisal@stainkepri.ac.id<p><em>Artikel ini mengkaji problematika rekonstruksi kurikulum akademik dalam konteks integrasi ilmu agama dan sains modern di pendidikan tinggi Islam. Melalui pendekatan kualitatif-deskriptif dengan analisis hermeneutik dan studi komparatif, penelitian ini mengembangkan kerangka konseptual lima dimensi rekonstruksi kurikulum yang mencakup dimensi filosofis-fondasional, epistemologis-metodologis, struktural-organisasional, pedagogis-praktis, dan evaluatif-asessmentif. Model transformasi kurikulum empat fase yang dirumuskan meliputi dekonstruksi, desain ulang, implementasi, dan institutionalisasi, yang berfungsi sebagai panduan sistematis bagi perguruan tinggi Islam dalam merekonstruksi kurikulum secara integratif. Studi kasus terhadap UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menunjukkan bahwa rekonstruksi kurikulum memerlukan komitmen institusional berkelanjutan, pengembangan kapasitas dosen transdisipliner, serta sinergi antara kebijakan top-down dan inisiatif bottom-up. Analisis kritis mengidentifikasi empat risiko utama, yaitu fragmentasi kurikuler, dikotomi epistemologis, resistensi institusional, dan dekontekstualisasi kurikulum, yang berpotensi menghambat efektivitas rekonstruksi jika tidak dimitigasi secara tepat. Penelitian ini berkontribusi dalam menawarkan model rekonstruksi kurikulum yang operasional dan kontekstual bagi pengembangan pendidikan tinggi Islam yang integratif</em></p>2026-06-17T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Dukhroini Ali, Muhammad Faisalhttps://ejournal.yayasanpendidikandzurriyatulquran.id/index.php/qosim/article/view/8781Kepemimpinan Pendidikan Yang Adaptif Dan Visioner2026-06-17T21:55:47+07:00Dukhroini Alisudirman.anwar@gmail.comResdin Efendi PasaribuResdinefendi42@gmail.comMujidMujidmdr75@gmail.comErma Fatmawatifatmawatierma13@mail.comKhotimatus Sholikhahkhotimatussholihah@unisda.ac.id<p><em>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep kepemimpinan pendidikan yang adaptif dan visioner dalam menghadapi tantangan perubahan sosial, perkembangan teknologi, serta dinamika dunia pendidikan di era globalisasi. Kepemimpinan pendidikan tidak lagi hanya berorientasi pada aspek administratif, tetapi juga dituntut mampu membangun inovasi, kolaborasi, dan transformasi kelembagaan yang berkelanjutan. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis studi kepustakaan (library research) melalui analisis berbagai literatur ilmiah, artikel jurnal, dan dokumen akademik yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan pendidikan yang adaptif ditandai dengan kemampuan pemimpin dalam merespons perubahan secara cepat, fleksibel, dan solutif, sedangkan kepemimpinan visioner diwujudkan melalui kemampuan merancang arah dan tujuan pendidikan jangka panjang yang berorientasi pada peningkatan mutu lembaga pendidikan. Selain itu, pemimpin pendidikan yang efektif mampu mengintegrasikan nilai-nilai inovasi, komunikasi, penguatan budaya organisasi, serta pengembangan sumber daya manusia secara berkelanjutan. Penelitian ini menegaskan bahwa kepemimpinan pendidikan yang adaptif dan visioner menjadi faktor strategis dalam menciptakan lembaga pendidikan yang kompetitif, responsif, dan relevan terhadap kebutuhan zaman</em></p>2026-06-17T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Dukhroini Ali, Resdin Efendi Pasaribu, Mujid, Erma Fatmawati, Khotimatus Sholikhahhttps://ejournal.yayasanpendidikandzurriyatulquran.id/index.php/qosim/article/view/8784Moderasi Beragama Dan Pluralitas Penafsiran Islam2026-06-17T21:59:07+07:00Mujidsudirman.anwar@gmail.comMuhammad Faisalfaisal@stainkepri.ac.id<p><em>This article examines the relationship between religious moderation and the plurality of Islamic interpretations through hermeneutical analysis of contemporary Islamic discourse. Religious moderation, promoted as the official paradigm of religiosity in Indonesia, faces fundamental epistemological and hermeneutical challenges when confronted with the reality of pluralistic interpretations of religious texts. Through hermeneutical-critical analysis integrating the thoughts of Fazlur Rahman, Khaled Abou El Fadl, and Nasr Hamid Abu Zayd, this study develops a five-dimensional framework encompassing textual-hermeneutical, contextual-historical, ethical-normative, social-dialogical, and institutional-structural dimensions as the foundation for religious moderation based on interpretive plurality. Furthermore, this research formulates a four-phase transformative model comprising deconstruction of interpretive authoritarianism, hermeneutical reorientation, dialogical-integrative engagement, and institutionalization of wasatiyyah to guide the formation of moderate and inclusive Islamic discourse. The findings identify four critical risks, namely interpretive trivialization, hermeneutical relativism, institutional co-optation, and neo-essentialism, which potentially impede the realization of authentic religious moderation</em></p>2026-06-17T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Mujid, Muhammad Faisalhttps://ejournal.yayasanpendidikandzurriyatulquran.id/index.php/qosim/article/view/8785Integrasi Keilmuan Islam Berbasis Maqāṣid al-Syarī’ah dalam Pengembangan Hukum Ekonomi Syariah di Era Kontemporer2026-06-17T22:02:47+07:00Neri Aslinasudirman.anwar@gmail.comMuhammad Faisalfaisal@stainkepri.ac.id<p><em>Pengembangan hukum ekonomi syariah di era kontemporer menghadapi tantangan fundamental berupa fragmentasi antara prinsip syariah dan praktik ekonomi modern yang sekularistik. Artikel ini menganalisis integrasi keilmuan Islam berbasis maqasid al-syariah dalam pengembangan hukum ekonomi syariah melalui pendekatan kualitatif-deskriptif dengan kerangka analisis lima dimensi, yakni ontologis, epistemologis, aksiologis, metodologis-strategis, dan teleologis-transformatif. Melalui proses empat fase transformasi, yaitu identifikasi fragmentasi hukum ekonomi syariah, rekonstruksi epistemologi hukum ekonomi berbasis maqasid, implementasi integrasi maqasid dalam regulasi ekonomi syariah, dan resiliensi hukum ekonomi syariah berbasis maqasid, penelitian ini memetakan trajektori integrasi keilmuan Islam dalam konteks hukum ekonomi kontemporer. Studi kasus terhadap Bank Syariah Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan Direktorat Syariah, dan Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia mengungkap model integrasi yang beragam namun saling melengkapi. Analisis kritis mengidentifikasi empat risiko utama, meliputi formalisme maqasid, instrumentaliasi maqasid, fragmentasi interpretatif, dan sekularisasi tersembunyi, yang mengancam keberlangsungan integrasi tersebut. Temuan menunjukkan bahwa integrasi keilmuan Islam berbasis maqasid al-syariah memerlukan pendekatan sistemik yang mempertahankan dimensi transendental maqasid sekaligus responsif terhadap dinamika ekonomi kontemporer, di mana maqasid berfungsi sebagai kerangka filosofis yang memberikan arah dan makna bagi seluruh regulasi dan praktik ekonomi syariah</em></p>2026-06-17T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Neri Aslina, Muhammad Faisalhttps://ejournal.yayasanpendidikandzurriyatulquran.id/index.php/qosim/article/view/8788Integrasi Keilmuan Islam Dalam Perspektif Filsafat Ilmu Kontemporer2026-06-17T22:08:52+07:00Resdin Efendi Pasaribusudirman.anwar@gmail.comMuhammad Faisalfaisal@gmail.com<p><em>Artikel ini mengkaji integrasi keilmuan Islam dalam perspektif filsafat ilmu kontemporer melalui telaah ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Pendekatan integrasi keilmuan Islam telah menjadi diskursus akademik yang signifikan dalam upaya mendamaikan tradisi keilmuan Islam dengan sains modern, namun masih menghadapi tantangan konseptual dan praktis yang mendasar. Melalui analisis filosofis komprehensif, penelitian ini mengembangkan kerangka lima dimensi yang mencakup dimensi ontologis, epistemologis, aksiologis, metodologis-integratif, dan teleologis-transformatif sebagai landasan teoretis integrasi keilmuan Islam. Selain itu, penelitian ini merumuskan model transformasi empat fase yang meliputi dekonstruksi, reorientasi, integrasi, dan transformasi transdisipliner untuk memandu proses rekonstruksi epistemik dalam pendidikan tinggi Islam. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-filosofis dan analisis hermeneutik-kritis terhadap pemikiran Al-Attas, Al-Faruqi, dan Amin Abdullah, artikel ini menunjukkan bahwa integrasi keilmuan Islam mensyaratkan reorientasi ontologis dari dikotomi sacred-profane menuju kesatuan realitas tawhidi, rekonstruksi epistemologis yang mengintegrasikan sumber revelasi dengan rasionalitas ilmiah, serta reposisi aksiologis yang menempatkan nilai transendental sebagai landasan etika keilmuan. Temuan penelitian juga mengidentifikasi empat risiko kritis, yakni reduksi ontologis, fragmentasi epistemologis, instrumentalisme aksiologis, dan skolastisisme baru, yang berpotensi menghambat proses integrasi secara autentik</em></p>2026-06-17T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Resdin Efendi Pasaribu, Muhammad Faisal