https://ejournal.yayasanpendidikandzurriyatulquran.id/index.php/ihsan/issue/feedIHSAN : Jurnal Pendidikan Islam2026-04-24T14:27:33+07:00Dr (Cand) Hasan Syahrizal, M.Pd.ejournal@yayasanpendidikandzurriyatulquran.idOpen Journal Systems<p>E-ISSN 2987-1298 P-ISSN 3025-9150 Prefix DOI 10.61104. Artikel ilmiah Jurnal IHSAN merupakan hasil penelitian orisinil, gagasan konseptual, dan kajian mutakhir dalam lingkup Manajemen Pendidikan Islam (MPI), Pendidikan Agama Islam (PAI), Teknologi Pendidikan Islam (TPI), Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), Kependidikan Islam (KPI), Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), dan Ilmu-ilmu Keislaman. </p>https://ejournal.yayasanpendidikandzurriyatulquran.id/index.php/ihsan/article/view/5484Lingkungan Sekolah dan Dukungan Orang Tua dalam Pembentukan Karakter Disiplin Siswa2026-04-16T07:18:38+07:00Didit Darmawandr.diditdarmawan@gmail.comErni Wijayantiwijayantierni80@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi nilai-nilai disiplin dalam lingkungan sekolah dan mengidentifikasi bentuk-bentuk dukungan orang tua yang memperkuat nilai-nilai tersebut, serta untuk meneliti sinergi antara kedua lingkungan tersebut dalam membentuk karakter siswa. Dengan menggunakan metode tinjauan pustaka kualitatif dengan analisis isi, penelitian ini mensintesis literatur akademis yang diterbitkan hingga tahun 2025. Temuan menunjukkan bahwa sekolah membangun nilai-nilai disiplin melalui aturan formal, peran guru sebagai teladan, sistem penghargaan dan konsekuensi, pengaturan lingkungan fisik, ritual sekolah, kurikulum tersembunyi, dan budaya institusional. Dukungan orang tua terwujud melalui pola pengasuhan otoritatif, rutinitas yang konsisten, teladan sehari-hari, komunikasi terbuka tentang pengalaman sekolah, keterlibatan aktif dalam kegiatan sekolah, pengawasan media dan interaksi teman sebaya, serta menciptakan lingkungan rumah yang kondusif. Sinergi optimal terjadi ketika konsistensi nilai dipertahankan antara sekolah dan rumah, komunikasi orang tua-guru berlangsung secara teratur, dan kemitraan aktif dikembangkan dalam merumuskan pendekatan pendidikan karakter. Koherensi ini mencegah kebingungan normatif siswa dan mempercepat internalisasi disiplin sebagai bagian integral dari identitas mereka. Studi ini menyiratkan perlunya sekolah merancang program pembentukan karakter yang sistematis dan perlunya orang tua menyadari peran penting mereka sebagai pendidik utama dalam kemitraan dengan sekolah.</p>2026-04-26T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Didit Darmawan, Erni Wijayantihttps://ejournal.yayasanpendidikandzurriyatulquran.id/index.php/ihsan/article/view/4997Peran Pendidikan Agama dalam Pembentukan Karakter Anak Sekolah Dasar Perspektif Psikologi Agama2026-03-06T22:48:18+07:00Sabariahssabariah814@gmail.comRahmatrahmat4.id@gmail.comSalsabilla Johan Ajijahsalsabillajohanaijah28@gmail.comSurawansurawan@iain-palangkaraya.ac.id<p>Pendidikan agama merupakan salah satu komponen penting dalam proses pembentukan karakter siswa sekolah dasar karena berperan dalam menanamkan nilai moral dan spiritual sejak usia dini. Pada masa perkembangan psikologis anak, nilai-nilai keagamaan menjadi landasan dalam membentuk sikap, pola pikir, serta perilaku sosial yang positif. Perspektif psikologi agama memandang bahwa pengalaman religius yang diterima anak melalui proses pembelajaran mampu mendorong terbentuknya kepribadian yang seimbang antara aspek kognitif, afektif, dan perilaku. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara deskriptif peran pendidikan agama dalam pembentukan karakter anak sekolah dasar berdasarkan pendekatan psikologi agama. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan informan, serta analisis dokumentasi kegiatan pembelajaran. Data dianalisis melalui proses seleksi data, penyajian informasi, dan penarikan makna secara interaktif dan berkesinambungan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pendidikan agama berkontribusi dalam menumbuhkan karakter religius, kedisiplinan, tanggung jawab, serta kejujuran siswa melalui praktik keteladanan guru, kegiatan pembiasaan ibadah, dan integrasi nilai spiritual dalam aktivitas belajar. Internalisasi nilai terjadi melalui pengalaman belajar yang melibatkan aspek emosional, pemahaman kognitif, dan interaksi sosial secara berulang. Selain itu, sinergi antara lingkungan sekolah dan keluarga menjadi faktor pendukung utama dalam penguatan karakter anak. Dengan demikian, pendidikan agama memiliki peranan penting dalam membentuk karakter anak secara menyeluruh melalui pendekatan psikologi agama.</p>2026-04-02T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Sabariah, Rahmat, Salsabilla Johan Ajijah, Surawanhttps://ejournal.yayasanpendidikandzurriyatulquran.id/index.php/ihsan/article/view/4113Peran dan Tantangan Guru dalam Mewujudkan Moderasi Beragama di Madrasah2026-01-09T12:21:32+07:00Abdul Rosyid Teguhdin Hamidrosyid.takmir61@gmail.comHasanah Hasanahhasanah.arsy02@gmail.com<p><em>Moderasi beragama dalam konteks pendidikan merupakan strategi vital untuk membentuk generasi yang toleran, inklusif, dan berkomitmen pada nilai-nilai kebangsaan dalam masyarakat pluralistik seperti Indonesia. Integrasi moderasi beragama ke dalam <strong>kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI)</strong> memiliki dampak signifikan dalam membangun sikap saling menghormati perbedaan, mengurangi intoleransi, dan mencegah ekstremisme di lingkungan sekolah dan masyarakat luas. </em><em>Tujuan penelitian ini adalah menganalisis peran dan tantangan</em><em> guru dalam mewujudkan moderasi beragama di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Sirojul Banat Ciganjur. Moderasi beragama penting dalam pendidikan dasar sebagai landasan pembentukan karakter toleran, inklusif, dan saling menghormati perbedaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru memiliki peran utama sebagai fasilitator nilai, teladan perilaku, dan mediator pembelajaran moderat, namun menghadapi sejumlah tantangan seperti keterbatasan bahan ajar, kurangnya pelatihan khusus, dan waktu pembelajaran yang padat. Temuan ini menekankan pentingnya penguatan kompetensi guru dan penyediaan sumber belajar moderasi beragama yang kontekstual untuk meningkatkan efektivitas peran guru di tingkat MI</em></p>2026-04-03T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Abdul Rosyid Teguhdin Hamid, Hasanah Hasanahhttps://ejournal.yayasanpendidikandzurriyatulquran.id/index.php/ihsan/article/view/5091Tantangan Profesionalisme Guru PAI dalam Menghadapi Generasi Z dan Alpha di Lembaga Pendidikan Islam 2026-03-14T06:04:42+07:00Miftha Hulladuni Riandi12310122642@students.uin-suska.ac.idMuhammad Fajarfajarrmuhammadd433@gmail.comAlfaza Rizky12310110505@students.uin-suska.ac.idHerlini Puspika Sariherlini.puspika.sari@students.uin-suska.ac.id<p>Perkembangan teknologi digital yang sangat pesat telah mempengaruhi karakteristik peserta didik, khususnya generasi Z dan generasi Alpha yang tumbuh dalam lingkungan teknologi dan informasi. Kondisi ini menuntut guru Pendidikan Agama Islam (PAI) untuk memiliki profesionalisme yang tinggi agar mampu menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis berbagai tantangan profesionalisme guru PAI dalam menghadapi generasi Z dan Alpha di lembaga pendidikan Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode library research, yaitu dengan mengkaji berbagai sumber literatur seperti buku, jurnal ilmiah, dan hasil penelitian yang relevan dengan topik penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru PAI menghadapi beberapa tantangan utama, antara lain perubahan karakteristik belajar peserta didik yang lebih digital dan visual, kebutuhan penguasaan teknologi pembelajaran, tuntutan inovasi metode pembelajaran, serta pentingnya penguatan nilai-nilai karakter dan spiritualitas di tengah perkembangan teknologi. Selain itu, guru PAI juga dituntut untuk terus meningkatkan kompetensi profesional, pedagogik, sosial, dan kepribadian agar mampu melaksanakan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan generasi Z dan Alpha. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan, pengembangan profesional berkelanjutan, serta pemanfaatan teknologi pembelajaran menjadi langkah penting dalam menghadapi tantangan tersebut. Penelitian ini menunjukkan bahwa profesionalisme guru PAI memiliki peran strategis dalam membentuk generasi yang berkarakter religius dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.</p>2026-04-04T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Miftha Hulladuni Riandi, Muhammad Fajar, Alfaza Rizky, Herlini Puspika Sarihttps://ejournal.yayasanpendidikandzurriyatulquran.id/index.php/ihsan/article/view/5169Pembagian Ilmu Tauhid: Tauhid Rububiyah, Uluhiyah, dan Asma Wa Sifat dalam Kajian Teologis2026-03-23T07:22:53+07:00Yuli Fitriyanti12310120092@students.uin-suska.ac.idNurul Azwa12310122755@students.uin-suska.ac.idTri Endang Trisnawati Tri Endang Trisnawati 12310120434@students.uin-suska.ac.idDefriani12310120658@students.uin-suska.ac.idSyalum Syahrani12310123265@students.uin-suska.ac.idSri Wahyuni Sri Wahyunisriwahyuni@alkifayahriau.ac.id<p><em>Ilmu tauhid merupakan landasan utama dalam teologi Islam yang membahas prinsip keesaan Allah sebagai inti ajaran akidah. Dalam perkembangan kajian modern, tauhid tidak lagi dipahami semata-mata sebagai ajaran normatif, tetapi juga sebagai kerangka konseptual yang memiliki dimensi metodologis dan epistemologis dalam pengembangan ilmu kalam. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pembagian tauhid ke dalam tiga aspek pokok, yaitu rububiyah, uluhiyah, dan asma wa sifat, dalam perspektif teologis serta menjelaskan keterkaitan konseptual ketiganya dalam membangun sistem akidah yang utuh. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi kepustakaan dengan teknik purposive sampling terhadap 20 literatur ilmiah terbitan 2021–2024. Analisis data dilakukan dengan metode analisis isi melalui tahapan reduksi, pengorganisasian, dan penarikan simpulan secara sistematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tauhid rububiyah menegaskan otoritas Allah sebagai Pencipta dan Pengatur alam, tauhid uluhiyah menekankan penghambaan eksklusif kepada-Nya, sedangkan tauhid asma wa sifat menguatkan pemahaman tentang kesempurnaan Allah melalui penetapan nama dan sifat-Nya secara proporsional. Ketiga dimensi tersebut saling melengkapi dalam membentuk konstruksi teologis yang rasional dan kontekstual. Dengan demikian, klasifikasi tauhid ini memiliki relevansi penting dalam menjawab tantangan pemikiran Islam kontemporer.</em></p>2026-04-04T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Yuli Fitriyanti, Nurul Azwa, Tri Endang Trisnawati , Defriani, Syalum Syahrani, Sri Wahyunihttps://ejournal.yayasanpendidikandzurriyatulquran.id/index.php/ihsan/article/view/3499Internalisasi Nilai-Nilai Moderasi Beragama melalui Kegiatan Keagamaan di Sekolah Dasar Negeri Tambakaji 042025-12-17T19:11:49+07:00Widya Auliya Oktavianawidyaauliyaoktaviana@gmail.comAlimah Br Tambunantambunanalimah06@gmail.comEly Susantielysusantu12@gmail.comSri Rahayusriirahayuu1223@gmail.comNena A’laa Annasa Alifnalaanasa@gmail.comM. Rikza Chamamirikza@walisongo.ac.id<p>Penelitian ini bertujuan untuk memberikan penjelasan tentang proses penerimaan nilai-nilai agama, tantangan yang dihadapi, serta kemajuan dalam membentuk sikap moderat dalam beragama di SDN Tambakaji 04. Dengan demikian, diharapkan dapat membentuk karakter yang lebih ramah dan toleran. Mengamati, melakukan wawancara mendalam, dan mengumpulkan berbagai dokumen adalah metode kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan yang biasa dilakukan, seperti doa pagi, shalat berjamaah, perayaan hari besar, serta interaksi antar pemeluk agama. Proses nilai tersebut melalui tiga tahap: transformasi nilai, transaksi nilai, dan transiternilisasi nilai. Nilai yang paling umum adalah <em>tawazun, tasamuh,</em> dan<em> syura</em>. Beberapa tantangan yang dihadapi meliputi dampak dari media sosial, perbedaan tingkat pemahaman siswa tentang agama, serta perbedaan antara nilai-nilai yang diterapkan di sekolah dan di rumah. Secara umum, kegiatan keagamaan sudah membantu perkembangan siswa, terlihat dari perubahan sikap, berkurangnya tindakan perundungan, cara berpakaian, disiplin, tanggung jawab, dan kejujuran. Oleh karena itu, kegiatan seperti ini di sekolah dasar harus terus dilakukan karena sangat diperlukan untuk memperkuat karakter moderat siswa.</p>2026-04-04T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Widya Auliya Oktaviana, Alimah Br Tambunan, Ely Susanti, Sri Rahayu, Nena A’laa Annasa Alif, M. Rikza Chamamihttps://ejournal.yayasanpendidikandzurriyatulquran.id/index.php/ihsan/article/view/3373Islam Dan Tradisi Petik Laut: Integrasi Nilai Pendidikan Agama Islam Dalam Budaya Lokal Pesisir2025-12-14T16:42:47+07:00Sugeng Hidayat13sugenghidayat@gmail.com<p><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Penelitian ini membahas Tradisi Petik Laut, sebuah praktik budaya masyarakat pesisir yang telah berakulturasi dengan ajaran Islam, dengan fokus pada integrasi nilai-nilai pendidikan agama Islam (PAI) dan mekanisme internalisasinya. Melalui kajian kepustakaan kualitatif, kajian ini menemukan bahwa tradisi tersebut mengandung nilai-nilai fundamental PAI, seperti syukur, tauhid, dan solidaritas sosial (ukhuwah). Nilai-nilai ini terinternalisasi melalui akulturasi adaptif, peran tokoh agama, serta pembelajaran berbasis pengalaman. Kontribusi utama penelitian ini adalah menempatkan Petik Laut sebagai media pendidikan Islam nonformal berbasis kearifan lokal, sekaligus memberikan kerangka konseptual mengenai hubungan agama dan budaya pesisir yang relevan untuk pengembangan PAI yang kontekstual.</span></span></p>2026-04-06T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Sugeng Hidayathttps://ejournal.yayasanpendidikandzurriyatulquran.id/index.php/ihsan/article/view/4300Prinsip Moderasi Beragama: Internalisasi Nilai Wasathiyyah dalam Praktik Sosiokultural di Era Digital2026-01-17T12:50:37+07:00Muhammad Satrio Utomoriopcx@gmail.comAbdul Ghofurriopcx@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mekanisme internalisasi prinsip moderasi beragama dalam ruang sosiokultural masyarakat di tengah fenomena polarisasi agama dan disrupsi digital. Melalui tinjauan literatur, penelitian ini mengidentifikasi celah dalam studi terdahulu yang cenderung bersifat <em>top-down</em> dan teoritis, serta kurang mengeksplorasi praktik organik di tingkat akar rumput. Penelitian ini menawarkan perspektif baru mengenai adaptasi nilai-nilai moderasi—seperti <em>tawasut</em>, <em>i'tidal</em>, dan <em>tasamuh</em>—menjadi praktik sosial yang resilien terhadap narasi ekstremisme di media sosial. Argumen utama yang diajukan adalah bahwa keberhasilan moderasi beragama sangat bergantung pada sinergi antara literasi digital keagamaan dan penguatan nilai-nilai kearifan lokal. Hasil analisis menunjukkan bahwa integrasi prinsip moderasi dengan pemahaman budaya lokal yang inklusif dapat meningkatkan daya tahan masyarakat terhadap infiltrasi paham radikal secara signifikan. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan model moderasi beragama yang lebih partisipatif dan berbasis komunitas.</p>2026-04-04T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Muhammad Satrio Utomo, Abdul Ghofurhttps://ejournal.yayasanpendidikandzurriyatulquran.id/index.php/ihsan/article/view/3945Konsep Wasathiyah dalam Moderasi Beragama Islam: Studi Literatur2026-01-01T13:28:25+07:00Zunairoh Asma Nur Azizahzunairohazizah@gmail.comAbdul Ghofurzunairohazizah@gmail.com<p>Penelitian ini merupakan studi literatur yang bertujuan untuk mendefinisikan dan mengelaborasi konsep wasathiyah sebagai jalan tengah dalam moderasi beragama Islam. Latar belakang penelitian ini adalah adanya polarisasi pemikiran keagamaan di kalangan umat Islam yang memicu perpecahan internal, yaitu antara kecenderungan ekstremisme yang kaku dan tekstualis serta liberalisme yang mengedepankan rasionalitas dan kebebasan tanpa batas. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik analisis isi (content analysis) terhadap jurnal dan artikel ilmiah yang relevan dan diperoleh dari basis data akademik bereputasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wasathiyah yang berlandaskan Q.S. Al-Baqarah ayat 143 (ummatan wasathan) mengandung makna kebaikan, keadilan, keseimbangan, dan moderasi. Konsep ini diimplementasikan melalui empat prinsip utama, yaitu keadilan (al-‘adl), keseimbangan (at-tawazun), toleransi (at-tasamuh), dan konsistensi (istiqamah). Keempat prinsip tersebut menjadi kerangka penting dalam penguatan moderasi beragama dan menjaga persatuan umat Islam. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan wasathiyah merupakan kunci untuk menghindari sikap berlebihan maupun kebebasan tanpa batas dalam kehidupan beragama.</p>2026-04-04T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Zunairoh Asma Nur Azizah, Abdul Ghofurhttps://ejournal.yayasanpendidikandzurriyatulquran.id/index.php/ihsan/article/view/3809Pendidikan Akhlak Anak dalam Keluarga Menurut Perspektif Pendidikan Islam2025-12-26T21:27:43+07:00Muhammad Dzaki Miftahur Rizkielmiftah1328@gmail.comAlwi Alhadadalwialhadad1234@gmail.comMuhammad Sadad Mubarokmubaroksadad01@gmail.comWafa Uswatun Hasanahwafacute190@gmail.comNayla Aulia Zahranayaulizra@gmail.comTarsonotarsono@uinsgd.ac.id<p>Pendidikan akhlak anak dalam keluarga memainkan peran fundamental dalam pembentukan karakter dan kesadaran spiritual menurut perspektif pendidikan Islam. Keluarga dianggap sebagai lembaga pendidikan pertama dan utama yang bertanggung jawab menanamkan nilai-nilai akhlak berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep pendidikan akhlak anak dalam keluarga dengan mengintegrasikan pemikiran Islam klasik dan pendekatan pendidikan kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui metode tinjauan literatur, dengan sumber data berupa buku, artikel jurnal ilmiah, dan literatur akademik terkait. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan analitis untuk mengkaji prinsip, metode, dan peran keluarga dalam pendidikan akhlak anak-anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan akhlak dalam keluarga dilakukan melalui teladan orang tua, kebiasaan perilaku positif, komunikasi pendidikan yang penuh kasih sayang, dan bimbingan akhlak yang berkelanjutan. Orang tua memainkan peran strategis sebagai pendidik utama dalam membentuk karakter, keyakinan, dan tanggung jawab sosial anak-anak. Integrasi pemikiran Islam klasik dan pendekatan pendidikan modern menegaskan bahwa pendidikan akhlak berbasis keluarga tetap relevan dalam menghadapi tantangan kehidupan modern. </p>2026-04-04T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Muhammad Dzaki Miftahur Rizki, Alwi Alhadad, Muhammad Sadad Mubarok, Wafa Uswatun Hasanah, Nayla Aulia Zahra, Tarsonohttps://ejournal.yayasanpendidikandzurriyatulquran.id/index.php/ihsan/article/view/5236Analisis Konsep Pernikahan Dalam Perspektif Islam Dan Implementasinya Pada Generasi Muda Di Era Modern2026-04-01T01:00:23+07:00Najwa Dwi Heryantinadiafriska97@gmail.comNatasya Suci Anandanajwaheryanti@gmail.comSyifani Azzuranajwaheryanti@gmail.comHapni Laila Siregarnajwaheryanti@gmail.com<p><em>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman serta pandangan generasi muda terhadap konsep pernikahan dalam perspektif Islam dan implementasinya pada era modern. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei melalui penyebaran kuesioner kepada 30 responden yang termasuk dalam kategori generasi muda. Instrumen penelitian terdiri dari 20 pernyataan yang menggunakan skala Likert dengan empat pilihan jawaban, yaitu sangat tidak setuju, tidak setuju, setuju, dan sangat setuju. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan perangkat lunak IBM SPSS Statistics dengan teknik analisis deskriptif, uji validitas, dan uji reliabilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa generasi muda memiliki pemahaman yang cukup baik mengenai konsep pernikahan dalam perspektif Islam. Hal ini ditunjukkan oleh dominasi jawaban responden pada kategori setuju dan sangat setuju pada sebagian besar indikator penelitian. Selain itu, hasil analisis menunjukkan bahwa instrumen penelitian memiliki tingkat reliabilitas yang tinggi dengan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,883. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa generasi muda memandang pernikahan sebagai institusi penting yang tidak hanya memiliki dimensi sosial, tetapi juga dimensi religius sebagai bentuk ibadah yang bertujuan membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.</em></p>2026-04-06T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Najwa Dwi Heryanti, Natasya Suci Ananda, Syifani Azzura, Hapni Laila Siregarhttps://ejournal.yayasanpendidikandzurriyatulquran.id/index.php/ihsan/article/view/3399Pendekatan Pembiasaan dalam Pendidikan Sholat Anak Usia Dini Menurut Perspektif Al-Qur'an dan Hadist2025-12-15T12:24:29+07:00Irisya Nuruliyahnuruliyahirisya@gmail.comIrsyad Alfath2342052045@webmail.uad.ac.idSutrisnotrisno_63@yahoo.com<p>Pendidikan Islam bagi anak dapat diajarkan pada sejak dini. Pada masa ini, anak sangat sensitif terhadap apapun yang mereka lihat dan mereka dapatkan, termasuk melihat kebiasaan orang tuanya ketika sholat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pendekatan pembiasaan dalam pendidikan sholat bagi anak usia dini berdasarkan perspektif Al-Qur’an dan Hadis. Kajian dilakukan melalui metode <em>literature review</em> terhadap berbagai sumber ilmiah, baik klasik maupun kontemporer, dalam kurun waktu 2020–2025. Fokus utama penelitian ini adalah pada pemahaman teologis dan pedagogis tentang pentingnya pembiasaan sholat sejak usia dini, strategi implementasi di lembaga PAUD, serta keterpaduannya dengan teori perkembangan anak. Hasil kajian menunjukkan bahwa pembiasaan sholat merupakan strategi pendidikan efektif dalam menanamkan nilai spiritual, disiplin, dan karakter religius anak usia dini. Landasan normatif pembiasaan ini termuat dalam QS. An-Nisā’ [4]:103 yang menegaskan pentingnya penegakan sholat tepat waktu, serta hadis riwayat Abu Dawud yang memerintahkan orang tua untuk mengajarkan sholat kepada anak sejak usia tujuh tahun. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembiasaan sholat pada anak usia dini perlu dikembangkan melalui pendekatan holistik yang mengintegrasikan nilai agama, psikologi perkembangan, dan keterlibatan keluarga.</p>2026-04-06T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Irisya Nuruliyah, Irsyad Alfath, Sutrisnohttps://ejournal.yayasanpendidikandzurriyatulquran.id/index.php/ihsan/article/view/3791Belajar dan Mengajar sebagai Kewajiban Qur’ani: Analisis Normatif dan Implikasi Edukatif dalam Kehidupan Masyarakat Muslim2025-12-26T11:34:43+07:00Aminatuzzahrahaminatuzzahrahzahrah643@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan mengungkap dasar normatif dalam Al-Qur’an yang menjelaskan kewajiban belajar dan mengajar bagi umat Islam serta menelaah implikasinya terhadap kehidupan individu dan sosial masyarakat. Kajian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan dan teknik analisis isi terhadap sejumlah ayat Al-Qur’an yang relevan dengan konsep ilmu pengetahuan dan pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Qur’an menegaskan pentingnya proses belajar dan mengajar sebagai sarana pembentukan karakter, pengembangan intelektual, dan peningkatan spiritualitas umat. Kewajiban menuntut ilmu tidak hanya bersifat personal, tetapi juga memiliki dimensi sosial yang berpengaruh terhadap kemajuan peradaban Islam. Dengan demikian, pendidikan Islam memiliki peran strategis dalam membangun masyarakat yang berilmu, berakhlak, dan berdaya saing tinggi.</p>2026-04-06T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Aminatuzzahrahhttps://ejournal.yayasanpendidikandzurriyatulquran.id/index.php/ihsan/article/view/5238Pendidikan Inklusif sebagai Wujud Keadilan Sosial dalam Pendidikan Islam2026-04-01T09:52:39+07:00Altia Juna12310123174@students.uin-suska.ac.idSiti Nurhasanah12310123902@students.uin-suska.ac.idHerlini Puspika Sariherlini.puspika.sari@uin-suska.ac.id<p><em style="font-size: 0.875rem;"><em>Pendidikan inklusif merupakan pendekatan pendidikan yang menekankan kesetaraan akses belajar bagi seluruh peserta didik tanpa diskriminasi. Dalam konteks pendidikan Islam, konsep ini berkaitan erat dengan nilai keadilan sosial yang menempatkan setiap manusia pada kedudukan yang setara serta menghargai keberagaman sebagai bagian dari sunnatullah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pendidikan inklusif sebagai wujud keadilan sosial dalam perspektif pendidikan Islam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka melalui kajian berbagai literatur ilmiah, artikel jurnal, dan sumber akademik yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan inklusif memiliki landasan yang kuat dalam ajaran Islam yang menekankan nilai kesetaraan, keadilan, dan penghargaan terhadap martabat manusia. Implementasi pendidikan inklusif dalam lembaga pendidikan Islam dapat dilakukan melalui pengembangan kurikulum yang adaptif, penggunaan metode pembelajaran yang variatif, serta penciptaan lingkungan belajar yang ramah bagi seluruh peserta didik. Namun demikian, penerapannya masih menghadapi beberapa tantangan seperti keterbatasan sarana prasarana, kompetensi guru, serta pemahaman masyarakat tentang pendidikan inklusif. Oleh karena itu, pendidikan inklusif dapat menjadi upaya strategis dalam mewujudkan keadilan sosial dalam sistem pendidikan Islam</em>.</em></p>2026-04-13T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 siti nurhasanah, Altia Juna, Herlini Puspika Sarihttps://ejournal.yayasanpendidikandzurriyatulquran.id/index.php/ihsan/article/view/5288Penguatan Karakter Islami melalui Pembelajaran PAI Berbasis Teknologi Digital2026-04-06T09:29:41+07:00Salsa Bila Ivanda12310123674@students.uin-suska.ac.idNurul Azwa12310122581@students.uin-suska.ac.idHerlini Puspika SariHerlini.puspika.sari@uin-suska.ac.id<p>Perkembangan teknologi digital telah memberikan dampak signifikan terhadap dunia pendidikan, termasuk dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Perubahan ini menuntut adanya integrasi antara pemanfaatan teknologi digital dengan upaya penguatan nilai-nilai karakter Islami pada peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran pembelajaran PAI berbasis teknologi digital dalam memperkuat karakter Islami, mengidentifikasi strategi yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran, serta menganalisis berbagai tantangan dan solusi dalam implementasinya. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi literatur (<em>library research</em>), yang bersumber dari jurnal ilmiah, buku, serta publikasi akademik yang relevan dengan pembelajaran PAI, pendidikan karakter, dan pemanfaatan teknologi digital dalam pendidikan. Hasil kajian menunjukkan bahwa teknologi digital dapat dimanfaatkan sebagai sarana yang efektif dalam mendukung internalisasi nilai-nilai karakter Islami melalui berbagai media pembelajaran, seperti video edukatif, platform pembelajaran daring, dan aplikasi interaktif. Strategi penguatan karakter Islami dapat dilakukan melalui integrasi nilai-nilai Islam dalam pembelajaran digital, keteladanan guru dalam etika bermedia, penguatan literasi digital berbasis nilai Islami, serta kerja sama antara sekolah dan orang tua. Namun demikian, implementasi pembelajaran PAI berbasis teknologi digital masih menghadapi sejumlah kendala, antara lain rendahnya literasi digital, potensi distraksi dari penggunaan media digital, serta keterbatasan infrastruktur teknologi di sebagian lembaga pendidikan. Oleh karena itu, diperlukan upaya peningkatan kompetensi digital guru, penguatan pengawasan dalam penggunaan teknologi, serta kolaborasi berbagai pihak agar pemanfaatan teknologi digital dalam pembelajaran PAI dapat berjalan secara optimal dalam membentuk karakter Islami peserta didik di era digital.</p>2026-04-13T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Salsa Bila Ivanda, Nurul Azwa, Herlini Puspika Sarihttps://ejournal.yayasanpendidikandzurriyatulquran.id/index.php/ihsan/article/view/3341Teologi Rasional Nurcholish Madjid Sebagai Basis Pembaruan Pemikiran Keagamaan Di Indonesia2025-12-12T21:04:16+07:00Said Romadhonsaidalgans@gmail.com<p><em>Pembaruan pemikiran Islam di Indonesia terus berkembang seiring dengan modernitas, globalisasi, dan meningkatnya kompleksitas persoalan keagamaan. Menguatnya kecenderungan keberagamaan yang tekstual, eksklusif, dan kurang adaptif menunjukkan perlunya kerangka teologis yang lebih rasional, kontekstual, dan inklusif. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep teologi rasional Nurcholish Madjid serta relevansinya dalam pembaruan pemikiran keagamaan di Indonesia. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui metode studi kepustakaan, penelitian ini menelusuri karya-karya primer Nurcholish Madjid dan berbagai literatur akademik yang membahas kontribusi intelektualnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teologi rasional Cak Nur menempatkan akal sebagai instrumen utama dalam memahami esensi ajaran Islam. Pendekatan ini mendorong pembebasan dari literalisme sempit, keyakinan fatalistik, dan sakralisasi berlebihan terhadap aspek profan. Temuan juga menunjukkan bahwa teologi rasional memperkuat nilai etika, humanisme, dan prinsip tauhid sebagai dasar keterbukaan serta kemajuan sosial. Selain itu, rasionalitas menjadi fondasi pembaruan Islam melalui ijtihad, penafsiran kontekstual, dan keterlibatan kritis terhadap tantangan modern. Dalam konteks Indonesia, pemikiran Cak Nur berkontribusi besar terhadap penguatan pendidikan Islam, moderasi beragama, dan wacana Islam inklusif. Kesimpulannya, teologi rasional menawarkan paradigma konstruktif untuk mengembangkan pemikiran Islam progresif yang relevan dengan dinamika sosial kontemporer.</em></p>2026-04-13T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Said Romadhonhttps://ejournal.yayasanpendidikandzurriyatulquran.id/index.php/ihsan/article/view/4431Makna keadilan Dalam Q.S al- Baqarah (2): 178 Studi perbandingan Hermeneutika Fazlur Rahman dan Fondasionalisme Normatif al- Ghazali2026-01-22T17:11:43+07:00M. Ilham Firmansyahilhamdoor087@gmail.comAchmad Mudzakkir Yusufmilhamfirmansyah25@pasca.alqolam.ac.id<p>Keadilan menjadi pijakan utama dalam ajaran Islam, salah satunya tampak dalam QS. Al Baqarah ayat 178 yang mengatur prinsip qishās dan alternatif maaf atau diyat. Ayat ini menegaskan kesetaraan hukum dan pembatasan pembalasan untuk mencegah ketidakadilan. Penelitian ini membandingkan dua pendekatan pemikiran besar dalam memahami makna keadilan tersebut: hermeneutika kontekstual Fazlur Rahman dan fondasionalisme normatif Al Ghazali. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan analisis kualitatif komparatif. Pertama, dijelaskan prinsip hermeneutika gerakan ganda Rahman yang menelaah konteks historis dan kemudian menggeneralisasi prinsip universal untuk relevansi masa kini, termasuk fleksibilitas penerapan qishās, penekanan pada maaf dan diyat, serta rasionalisasi hukum. Kedua, diuraikan fondasionalisme Al Ghazali melalui kerangka maqāṣid al‑syarī‘ah, khususnya prinsip menjaga jiwa sebagai dasar hukum qishās, serta hierarki darūriyyāt, ḥājiyyāt, dan taḥsīniyyāt yang menegaskan landasan normatif dan spiritual Hasil analisis menunjukkan bahwa Rahman menekankan kontekstualisasi dan adaptasi untuk menciptakan keadilan yang relevan dengan dinamika modern, sementara Al Ghazali menegaskan kepedulian pada tujuan dasar syariat yang tetap kokoh sebagai pijakan moral dan hukum. Perbandingan ini memberikan gambaran keragaman interpretasi keadilan dalam Islam dan implikasinya bagi pengembangan pemikiran hukum serta praktik sosial kontemporer.</p>2026-04-13T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 M. Ilham Firmansyah, Achmad Mudzakkir Yusufhttps://ejournal.yayasanpendidikandzurriyatulquran.id/index.php/ihsan/article/view/3811Efektivitas Sistem Penguatan (Reinforcement) dalam Pembelajaran Nahwu Sharaf pada Mahasiswa di Ma’had al-Jāmi‘ah IAI DDI Mangkoso2025-12-26T22:04:15+07:00Inarwatiarjoninar@gmail.comMuhdininarwati56@gmail.comDika Tripitasariinarwati56@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk, implementasi, respons mahasiswa, serta dampak sistem penguatan (reinforcement) dalam pembelajaran Nahwu–Sharaf di Ma’had al-Jāmi‘ah IAI DDI Mangkoso. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap mahasiswa yang mengikuti pembelajaran Nahwu–Sharaf. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem penguatan belum diterapkan secara optimal dan konsisten, karena sebagian besar reinforcement hanya muncul pada saat evaluasi atau ketika mahasiswa menjawab dengan benar. Penguatan yang diberikan juga masih didominasi penguatan verbal berupa koreksi atau penegasan jawaban, sementara bentuk apresiasi lain seperti reward akademik, umpan balik reflektif, dan penguatan berkelanjutan masih jarang dilakukan. Kondisi tersebut berdampak pada rendahnya motivasi, rasa percaya diri, serta keberanian mahasiswa dalam menerapkan kaidah Nahwu–Sharaf. Namun, ketika reinforcement diberikan secara rutin, mahasiswa menunjukkan peningkatan pemahaman, keberanian mencoba, serta pembiasaan mengulang materi dan menerapkan kaidah dalam kegiatan belajar. Dengan demikian, sistem penguatan terbukti memiliki peran penting dalam meningkatkan penguasaan dan pembiasaan Nahwu–Sharaf, sehingga perlu diterapkan secara lebih terencana, sistematis, dan berkelanjutan dalam proses pembelajaran di Ma’had al-Jāmi‘ah.</p>2026-04-15T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Inarwati, Muhdin, Dika Tripitasarihttps://ejournal.yayasanpendidikandzurriyatulquran.id/index.php/ihsan/article/view/5460Penerapan Nilai-Nilai Akhlak Dalam Kitab Tanbihul Ghafilin Untuk Mencegah Bullying Di MAS Tarbiyah Islamiyah Hamparan Perak2026-04-15T13:19:14+07:00Ramdan Haffizramdanhafiz08@gmail.comKhairuddin Lubiskhairuddinlbs82@gmail.comAhmad Ridwaniwan.mth@gmail.com<p><em>Akhlak merupakan suatu hambatan atau pun kondisi dimana siswa seringkali melakukan tindakan melenceng atau juga melakukan bullying. Masalah bullying atau perundungan sering terjadi di sekolah, masalah ini merupakan masalah penting yang perlu mendapatkan perhatian yang serius di kalangan para pendidik. Dikatakan demikian, karena bullying yang dialami peserta didik di sekolah akan membawa dampak negatif, baik terhadap diri sendiri, maupun terhadap lingkungannya. Berdasarkan observasi yang dilakukan di MAS Tarbiyah Islamiyah Hamparan Perak, pihak sekolah mengadakan kegiatan dakwah mingguan khususnya mengkaji kitab Tanbihul Ghafilin untuk mencegah terjadinya bullying di MAS Tarbiyah Islamiyah Hamparan Perak. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui upaya pihak sekolah dalam mengatasi tindakan perundungan atau bullying di sekolah dengan cara mengkaji kitab Tanbihul Ghafilin pada siswa MAS Tarbiyah Islamiyah Hamparan Perak. Dengan menggunakan metode peneletian teknik kualitatif. Menggunakan teknik pencarian data yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Dari hasil wawancara yang peneliti lakukan terhadap beberapa subjek seperti PKM III dan kepala sekolah. Upaya yang dilakukan pihak sekolah dalam mengatasi tindakan bullying adalah dengan mengadakan dakwah mingguan yang mengkaji kitab Tanbihul Ghafilin.</em></p>2026-04-22T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Ramdan Haffiz, Khairuddin Lubis, Ahmad Ridwanhttps://ejournal.yayasanpendidikandzurriyatulquran.id/index.php/ihsan/article/view/5491Evaluasi Pembelajaran PAI Berbasis Nilai- Nilai Islam2026-04-16T11:41:02+07:00Ibnu Fauziibzi152003@gmail.comNurfuadinurfuadi@uinsaizu.ac.id<p>Pendidikan Agama Islam atau PAI merupakan mata pelajaran sangat krusial dan penting, dan harus terus dikembangkan dan ditingkatkan. Meningkatkan dan mengembangkan PAI adalah melalui evaluasi pembelajaran, evaluasi sendiri menajadi satu kesatuan dengan kurikulum yang berlaku, karena evaluasi sendiri bagaian dari kurikulum. Kemudian selaian evaluasi yang berlaku beriringan dengan kurikulum yang berlaku, peneliti mencoba menelaah jika evaluasi itu dengan sesuai nilai- nilai Islam. Penelitian ini merupakan penelitian kualitataif deskriptif, dan peneliti menggunakan pendekatan studi pustaka atau libary scearch, dengan mengumpulkan data dari berbagai sumber literatur berupa artikel ilmiah dan buku. Peneliti mendapatkan hasil bawasannya evaluasi pembelajaran berbasis nilai- nilai Islam mengedepankan pada perkembengan spiritual, moral, dan sosial antara siswa dan guru, evaluasi dalam Islam di sebut dengan al-muhasabah(intropeksi). Dalam bermuhasabah terdapat tiga fungsi yakni sebagai kesadaran diri, sebagai menghitung sendiri, dan sebagai mengoreksi sendiri. Dan peneliti mencoba mengintegrasikan pada evaluasi pembelajaran PAI, dan diperoleh hasil : Guru bukan hanya mengajar tapi menjadi contoh suri tauldan bagi siswa, setiap siswa yang berperilaku buruk diberi hukuman mendidik untuk memberi kesadaran, dan guru merenungi apa yang membuat siswanya menjadi demikian, serta memberikan catatan kepada siswa setiap pembagian nilai apa yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan.</p>2026-04-22T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Ibnu Fauzi, Nurfuadihttps://ejournal.yayasanpendidikandzurriyatulquran.id/index.php/ihsan/article/view/5524Beyond Binary Opposition: Reconfiguring Islamic Responses to Western Modernity through Resistance, Adaptation, and Post-Secular Synthesis2026-04-17T13:41:55+07:00Irfan Musonifirfanmusonif04@gmail.comMuhamad Ibnu Athoillahatoilah671@gmail.comBinti Khuzaemahbintikhuzaemah12@gmail.comSyifa SalsabilaSyifasalsabila555@gmail.comKholid Mawardikholidmawardi@uinsaizu.ac.id<p><em>The relationship between Islam and Western modernity has frequently been framed within a binary opposition between acceptance and rejection, limiting a nuanced understanding of its complexity. This study reconceptualizes Islamic responses as a dynamic and processual configuration encompassing resistance, adaptation, and post-secular synthesis. Employing a qualitative interpretive approach, this research utilizes reflexive thematic analysis of contemporary academic literature (2020-2025) to identify latent patterns in the discourse on Islam and modernity. The findings indicate that resistance operates as an epistemological critique of Western modernity, while adaptation reflects selective and strategic engagement with modern institutional and technological structures. More significantly, the study identifies an emergent post-secular synthesis in which Islamic values and modern rationality are integrated, generating hybrid epistemic and socio-cultural formations. Unlike prior studies that examine Islamic responses in fragmented domains, this research integrates ideological, institutional, and epistemological dimensions within a unified analytical framework. In doing so, it bridges modernization theory, multiple modernities, and post-secularism into a coherent conceptual model. The study contributes by shifting the analytical paradigm from binary categorization to a dialectical and process-oriented perspective. These findings provide a theoretical foundation for future empirical research to examine how such configurations manifest across diverse socio-cultural contexts.</em></p>2026-04-22T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Irfan Musonif, Muhamad Ibnu Athoillah, Binti Khuzaemah, Syifa Salsabila, Kholid Mawardihttps://ejournal.yayasanpendidikandzurriyatulquran.id/index.php/ihsan/article/view/5555Transformasi Pembelajaran Akidah: Dari Konvensional ke Digital Learning di Era Society 5.02026-04-18T23:13:58+07:00Nur Fiza12310124489@students.uin-suska.ac.idEva Dwi Friana12310122175@students.uin-suska.ac.idFibri Melani12310120763@students.uin-suska.ac.idPaninggoran12310113775@students.uin-suska.ac.idSaid Najibul Hariri12310110807@students.uin-suska.ac.idSwi Wahyunisriwahyuni@alkifayahriau.ac.id<p><em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Pergeseran pembelajaran Aqidah dari metode tradisional ke pendekatan berbasis digital telah menjadi tak terhindarkan di era Masyarakat 5.0, yang menekankan integrasi teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan. Studi ini bertujuan untuk meneliti proses transformasi, serta tantangan dan peluang yang terkait dengan pembelajaran Aqidah digital. Pendekatan deskriptif kualitatif digunakan, dengan memanfaatkan tinjauan pustaka dan analisis studi relevan dalam pendidikan Islam dan pembelajaran digital. Temuan menunjukkan bahwa transformasi digital dalam pembelajaran Aqidah meningkatkan partisipasi siswa, memperluas akses, dan menawarkan fleksibilitas yang lebih besar melalui media interaktif, platform daring, dan sumber daya multimedia. Meskipun demikian, isu-isu seperti rendahnya literasi digital, akses yang tidak merata terhadap teknologi, dan risiko pemahaman yang dangkal tetap menjadi tantangan yang signifikan. Selain itu, mengintegrasikan pembelajaran berorientasi nilai dengan alat digital mengharuskan pendidik untuk berinovasi dalam strategi pedagogis sambil tetap menjaga prinsip-prinsip inti Aqidah. Dapat disimpulkan bahwa transformasi digital dalam pembelajaran Aqidah diperlukan dan menguntungkan, selama diimbangi dengan penguatan nilai-nilai spiritual dan moral.</span></span></em></p>2026-04-22T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Nur Fiza, Eva Dwi Friana, Fibri Melani, Paninggoran, Said Najibul Hariri, Swi Wahyunihttps://ejournal.yayasanpendidikandzurriyatulquran.id/index.php/ihsan/article/view/5711Eksplorasi Keterlibatan Belajar Siswa Dalam Pembelajaran Berbasis Multiple Intelligences Pada Mata Pelajaran PAI dan BP2026-04-24T14:27:33+07:00Latifah Aulia Hasanahlarifahaulia03@gmail.comIndah Muliatiindahmuliati@fis.unp.ac.id<p>Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya keterlibatan belajar siswa dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti yang masih cenderung pasif. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penerapan pembelajaran berbasis <em>Multiple Intelligences</em> serta keterkaitannya dengan keterlibatan belajar siswa yang mencakup aspek perilaku, emosional, dan kognitif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan jenis studi kasus yang dilaksanakan di SMPN 2 Batang Gasan. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis <em>Multiple Intelligences</em> dilakukan melalui variasi aktivitas seperti diskusi, praktik, penggunaan media visual, refleksi, dan penugasan, yang memberikan peluang kepada siswa untuk terlibat secara lebih aktif. Keterlibatan belajar siswa tampak pada aspek perilaku (aktif dalam diskusi, praktik, dan presentasi), aspek emosional (antusias dan tertarik dalam pembelajaran), dan aspek kognitif (memahami materi serta mampu merespon dan mengemukakan pendapat) secara lebih merata. Dengan demikian, pendekatan ini berkontribusi dalam menciptakan pembelajaran yang lebih aktif dan bermakna.</p>2026-04-25T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Latifah Aulia Hasanah, Indah Muliati