https://ejournal.yayasanpendidikandzurriyatulquran.id/index.php/ihsan/issue/feed IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam 2026-04-01T01:00:23+07:00 Dr (Cand) Hasan Syahrizal, M.Pd. ejournal@yayasanpendidikandzurriyatulquran.id Open Journal Systems <p>E-ISSN 2987-1298 P-ISSN 3025-9150 Prefix DOI 10.61104. Artikel ilmiah Jurnal IHSAN merupakan hasil penelitian orisinil, gagasan konseptual, dan kajian mutakhir dalam lingkup Manajemen Pendidikan Islam (MPI), Pendidikan Agama Islam (PAI), Teknologi Pendidikan Islam (TPI), Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), Kependidikan Islam (KPI), Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), dan Ilmu-ilmu Keislaman. </p> https://ejournal.yayasanpendidikandzurriyatulquran.id/index.php/ihsan/article/view/4997 Peran Pendidikan Agama dalam Pembentukan Karakter Anak Sekolah Dasar Perspektif Psikologi Agama 2026-03-06T22:48:18+07:00 Sabariah ssabariah814@gmail.com Rahmat rahmat4.id@gmail.com Salsabilla Johan Ajijah salsabillajohanaijah28@gmail.com Surawan surawan@iain-palangkaraya.ac.id <p>Pendidikan agama merupakan salah satu komponen penting dalam proses pembentukan karakter siswa sekolah dasar karena berperan dalam menanamkan nilai moral dan spiritual sejak usia dini. Pada masa perkembangan psikologis anak, nilai-nilai keagamaan menjadi landasan dalam membentuk sikap, pola pikir, serta perilaku sosial yang positif. Perspektif psikologi agama memandang bahwa pengalaman religius yang diterima anak melalui proses pembelajaran mampu mendorong terbentuknya kepribadian yang seimbang antara aspek kognitif, afektif, dan perilaku. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara deskriptif peran pendidikan agama dalam pembentukan karakter anak sekolah dasar berdasarkan pendekatan psikologi agama. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan informan, serta analisis dokumentasi kegiatan pembelajaran. Data dianalisis melalui proses seleksi data, penyajian informasi, dan penarikan makna secara interaktif dan berkesinambungan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pendidikan agama berkontribusi dalam menumbuhkan karakter religius, kedisiplinan, tanggung jawab, serta kejujuran siswa melalui praktik keteladanan guru, kegiatan pembiasaan ibadah, dan integrasi nilai spiritual dalam aktivitas belajar. Internalisasi nilai terjadi melalui pengalaman belajar yang melibatkan aspek emosional, pemahaman kognitif, dan interaksi sosial secara berulang. Selain itu, sinergi antara lingkungan sekolah dan keluarga menjadi faktor pendukung utama dalam penguatan karakter anak. Dengan demikian, pendidikan agama memiliki peranan penting dalam membentuk karakter anak secara menyeluruh melalui pendekatan psikologi agama.</p> 2026-04-02T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 Sabariah, Rahmat, Salsabilla Johan Ajijah, Surawan https://ejournal.yayasanpendidikandzurriyatulquran.id/index.php/ihsan/article/view/4113 Peran dan Tantangan Guru dalam Mewujudkan Moderasi Beragama di Madrasah 2026-01-09T12:21:32+07:00 Abdul Rosyid Teguhdin Hamid rosyid.takmir61@gmail.com Hasanah Hasanah hasanah.arsy02@gmail.com <p><em>Moderasi beragama dalam konteks pendidikan merupakan strategi vital untuk membentuk generasi yang toleran, inklusif, dan berkomitmen pada nilai-nilai kebangsaan dalam masyarakat pluralistik seperti Indonesia. Integrasi moderasi beragama ke dalam <strong>kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI)</strong> memiliki dampak signifikan dalam membangun sikap saling menghormati perbedaan, mengurangi intoleransi, dan mencegah ekstremisme di lingkungan sekolah dan masyarakat luas. </em><em>Tujuan penelitian ini adalah menganalisis peran dan tantangan</em><em> guru dalam mewujudkan moderasi beragama di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Sirojul Banat Ciganjur. Moderasi beragama penting dalam pendidikan dasar sebagai landasan pembentukan karakter toleran, inklusif, dan saling menghormati perbedaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru memiliki peran utama sebagai fasilitator nilai, teladan perilaku, dan mediator pembelajaran moderat, namun menghadapi sejumlah tantangan seperti keterbatasan bahan ajar, kurangnya pelatihan khusus, dan waktu pembelajaran yang padat. Temuan ini menekankan pentingnya penguatan kompetensi guru dan penyediaan sumber belajar moderasi beragama yang kontekstual untuk meningkatkan efektivitas peran guru di tingkat MI</em></p> 2026-04-03T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 Abdul Rosyid Teguhdin Hamid, Hasanah Hasanah https://ejournal.yayasanpendidikandzurriyatulquran.id/index.php/ihsan/article/view/5091 Tantangan Profesionalisme Guru PAI dalam Menghadapi Generasi Z dan Alpha di Lembaga Pendidikan Islam 2026-03-14T06:04:42+07:00 Miftha Hulladuni Riandi 12310122642@students.uin-suska.ac.id Muhammad Fajar fajarrmuhammadd433@gmail.com Alfaza Rizky 12310110505@students.uin-suska.ac.id Herlini Puspika Sari herlini.puspika.sari@students.uin-suska.ac.id <p>Perkembangan teknologi digital yang sangat pesat telah mempengaruhi karakteristik peserta didik, khususnya generasi Z dan generasi Alpha yang tumbuh dalam lingkungan teknologi dan informasi. Kondisi ini menuntut guru Pendidikan Agama Islam (PAI) untuk memiliki profesionalisme yang tinggi agar mampu menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis berbagai tantangan profesionalisme guru PAI dalam menghadapi generasi Z dan Alpha di lembaga pendidikan Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode library research, yaitu dengan mengkaji berbagai sumber literatur seperti buku, jurnal ilmiah, dan hasil penelitian yang relevan dengan topik penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru PAI menghadapi beberapa tantangan utama, antara lain perubahan karakteristik belajar peserta didik yang lebih digital dan visual, kebutuhan penguasaan teknologi pembelajaran, tuntutan inovasi metode pembelajaran, serta pentingnya penguatan nilai-nilai karakter dan spiritualitas di tengah perkembangan teknologi. Selain itu, guru PAI juga dituntut untuk terus meningkatkan kompetensi profesional, pedagogik, sosial, dan kepribadian agar mampu melaksanakan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan generasi Z dan Alpha. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan, pengembangan profesional berkelanjutan, serta pemanfaatan teknologi pembelajaran menjadi langkah penting dalam menghadapi tantangan tersebut. Penelitian ini menunjukkan bahwa profesionalisme guru PAI memiliki peran strategis dalam membentuk generasi yang berkarakter religius dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.</p> 2026-04-04T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 Miftha Hulladuni Riandi, Muhammad Fajar, Alfaza Rizky, Herlini Puspika Sari https://ejournal.yayasanpendidikandzurriyatulquran.id/index.php/ihsan/article/view/5169 Pembagian Ilmu Tauhid: Tauhid Rububiyah, Uluhiyah, dan Asma Wa Sifat dalam Kajian Teologis 2026-03-23T07:22:53+07:00 Yuli Fitriyanti 12310120092@students.uin-suska.ac.id Nurul Azwa 12310122755@students.uin-suska.ac.id Tri Endang Trisnawati Tri Endang Trisnawati 12310120434@students.uin-suska.ac.id Defriani 12310120658@students.uin-suska.ac.id Syalum Syahrani 12310123265@students.uin-suska.ac.id Sri Wahyuni Sri Wahyuni sriwahyuni@alkifayahriau.ac.id <p><em>Ilmu tauhid merupakan landasan utama dalam teologi Islam yang membahas prinsip keesaan Allah sebagai inti ajaran akidah. Dalam perkembangan kajian modern, tauhid tidak lagi dipahami semata-mata sebagai ajaran normatif, tetapi juga sebagai kerangka konseptual yang memiliki dimensi metodologis dan epistemologis dalam pengembangan ilmu kalam. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pembagian tauhid ke dalam tiga aspek pokok, yaitu rububiyah, uluhiyah, dan asma wa sifat, dalam perspektif teologis serta menjelaskan keterkaitan konseptual ketiganya dalam membangun sistem akidah yang utuh. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi kepustakaan dengan teknik purposive sampling terhadap 20 literatur ilmiah terbitan 2021–2024. Analisis data dilakukan dengan metode analisis isi melalui tahapan reduksi, pengorganisasian, dan penarikan simpulan secara sistematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tauhid rububiyah menegaskan otoritas Allah sebagai Pencipta dan Pengatur alam, tauhid uluhiyah menekankan penghambaan eksklusif kepada-Nya, sedangkan tauhid asma wa sifat menguatkan pemahaman tentang kesempurnaan Allah melalui penetapan nama dan sifat-Nya secara proporsional. Ketiga dimensi tersebut saling melengkapi dalam membentuk konstruksi teologis yang rasional dan kontekstual. Dengan demikian, klasifikasi tauhid ini memiliki relevansi penting dalam menjawab tantangan pemikiran Islam kontemporer.</em></p> 2026-04-04T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 Yuli Fitriyanti, Nurul Azwa, Tri Endang Trisnawati , Defriani, Syalum Syahrani, Sri Wahyuni https://ejournal.yayasanpendidikandzurriyatulquran.id/index.php/ihsan/article/view/3499 Internalisasi Nilai-Nilai Moderasi Beragama melalui Kegiatan Keagamaan di Sekolah Dasar Negeri Tambakaji 04 2025-12-17T19:11:49+07:00 Widya Auliya Oktaviana widyaauliyaoktaviana@gmail.com Alimah Br Tambunan tambunanalimah06@gmail.com Ely Susanti elysusantu12@gmail.com Sri Rahayu sriirahayuu1223@gmail.com Nena A’laa Annasa Alif nalaanasa@gmail.com M. Rikza Chamami rikza@walisongo.ac.id <p>Penelitian ini bertujuan untuk memberikan penjelasan tentang proses penerimaan nilai-nilai agama, tantangan yang dihadapi, serta kemajuan dalam membentuk sikap moderat dalam beragama di SDN Tambakaji 04. Dengan demikian, diharapkan dapat membentuk karakter yang lebih ramah dan toleran. Mengamati, melakukan wawancara mendalam, dan mengumpulkan berbagai dokumen adalah metode kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan yang biasa dilakukan, seperti doa pagi, shalat berjamaah, perayaan hari besar, serta interaksi antar pemeluk agama. Proses nilai tersebut melalui tiga tahap: transformasi nilai, transaksi nilai, dan transiternilisasi nilai. Nilai yang paling umum adalah <em>tawazun, tasamuh,</em> dan<em> syura</em>. Beberapa tantangan yang dihadapi meliputi dampak dari media sosial, perbedaan tingkat pemahaman siswa tentang agama, serta perbedaan antara nilai-nilai yang diterapkan di sekolah dan di rumah. Secara umum, kegiatan keagamaan sudah membantu perkembangan siswa, terlihat dari perubahan sikap, berkurangnya tindakan perundungan, cara berpakaian, disiplin, tanggung jawab, dan kejujuran. Oleh karena itu, kegiatan seperti ini di sekolah dasar harus terus dilakukan karena sangat diperlukan untuk memperkuat karakter moderat siswa.</p> 2026-04-04T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 Widya Auliya Oktaviana, Alimah Br Tambunan, Ely Susanti, Sri Rahayu, Nena A’laa Annasa Alif, M. Rikza Chamami https://ejournal.yayasanpendidikandzurriyatulquran.id/index.php/ihsan/article/view/3373 Islam Dan Tradisi Petik Laut: Integrasi Nilai Pendidikan Agama Islam Dalam Budaya Lokal Pesisir 2025-12-14T16:42:47+07:00 Sugeng Hidayat 13sugenghidayat@gmail.com <p><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Penelitian ini membahas Tradisi Petik Laut, sebuah praktik budaya masyarakat pesisir yang telah berakulturasi dengan ajaran Islam, dengan fokus pada integrasi nilai-nilai pendidikan agama Islam (PAI) dan mekanisme internalisasinya. Melalui kajian kepustakaan kualitatif, kajian ini menemukan bahwa tradisi tersebut mengandung nilai-nilai fundamental PAI, seperti syukur, tauhid, dan solidaritas sosial (ukhuwah). Nilai-nilai ini terinternalisasi melalui akulturasi adaptif, peran tokoh agama, serta pembelajaran berbasis pengalaman. Kontribusi utama penelitian ini adalah menempatkan Petik Laut sebagai media pendidikan Islam nonformal berbasis kearifan lokal, sekaligus memberikan kerangka konseptual mengenai hubungan agama dan budaya pesisir yang relevan untuk pengembangan PAI yang kontekstual.</span></span></p> 2026-04-06T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 Sugeng Hidayat https://ejournal.yayasanpendidikandzurriyatulquran.id/index.php/ihsan/article/view/4300 Prinsip Moderasi Beragama: Internalisasi Nilai Wasathiyyah dalam Praktik Sosiokultural di Era Digital 2026-01-17T12:50:37+07:00 Muhammad Satrio Utomo riopcx@gmail.com Abdul Ghofur riopcx@gmail.com <p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mekanisme internalisasi prinsip moderasi beragama dalam ruang sosiokultural masyarakat di tengah fenomena polarisasi agama dan disrupsi digital. Melalui tinjauan literatur, penelitian ini mengidentifikasi celah dalam studi terdahulu yang cenderung bersifat <em>top-down</em> dan teoritis, serta kurang mengeksplorasi praktik organik di tingkat akar rumput. Penelitian ini menawarkan perspektif baru mengenai adaptasi nilai-nilai moderasi—seperti <em>tawasut</em>, <em>i'tidal</em>, dan <em>tasamuh</em>—menjadi praktik sosial yang resilien terhadap narasi ekstremisme di media sosial. Argumen utama yang diajukan adalah bahwa keberhasilan moderasi beragama sangat bergantung pada sinergi antara literasi digital keagamaan dan penguatan nilai-nilai kearifan lokal. Hasil analisis menunjukkan bahwa integrasi prinsip moderasi dengan pemahaman budaya lokal yang inklusif dapat meningkatkan daya tahan masyarakat terhadap infiltrasi paham radikal secara signifikan. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan model moderasi beragama yang lebih partisipatif dan berbasis komunitas.</p> 2026-04-04T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 Muhammad Satrio Utomo, Abdul Ghofur https://ejournal.yayasanpendidikandzurriyatulquran.id/index.php/ihsan/article/view/3945 Konsep Wasathiyah dalam Moderasi Beragama Islam: Studi Literatur 2026-01-01T13:28:25+07:00 Zunairoh Asma Nur Azizah zunairohazizah@gmail.com Abdul Ghofur zunairohazizah@gmail.com <p>Penelitian ini merupakan studi literatur yang bertujuan untuk mendefinisikan dan mengelaborasi konsep wasathiyah sebagai jalan tengah dalam moderasi beragama Islam. Latar belakang penelitian ini adalah adanya polarisasi pemikiran keagamaan di kalangan umat Islam yang memicu perpecahan internal, yaitu antara kecenderungan ekstremisme yang kaku dan tekstualis serta liberalisme yang mengedepankan rasionalitas dan kebebasan tanpa batas. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik analisis isi (content analysis) terhadap jurnal dan artikel ilmiah yang relevan dan diperoleh dari basis data akademik bereputasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wasathiyah yang berlandaskan Q.S. Al-Baqarah ayat 143 (ummatan wasathan) mengandung makna kebaikan, keadilan, keseimbangan, dan moderasi. Konsep ini diimplementasikan melalui empat prinsip utama, yaitu keadilan (al-‘adl), keseimbangan (at-tawazun), toleransi (at-tasamuh), dan konsistensi (istiqamah). Keempat prinsip tersebut menjadi kerangka penting dalam penguatan moderasi beragama dan menjaga persatuan umat Islam. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan wasathiyah merupakan kunci untuk menghindari sikap berlebihan maupun kebebasan tanpa batas dalam kehidupan beragama.</p> 2026-04-04T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 Zunairoh Asma Nur Azizah, Abdul Ghofur https://ejournal.yayasanpendidikandzurriyatulquran.id/index.php/ihsan/article/view/3809 Pendidikan Akhlak Anak dalam Keluarga Menurut Perspektif Pendidikan Islam 2025-12-26T21:27:43+07:00 Muhammad Dzaki Miftahur Rizki elmiftah1328@gmail.com Alwi Alhadad alwialhadad1234@gmail.com Muhammad Sadad Mubarok mubaroksadad01@gmail.com Wafa Uswatun Hasanah wafacute190@gmail.com Nayla Aulia Zahra nayaulizra@gmail.com Tarsono tarsono@uinsgd.ac.id <p>Pendidikan akhlak anak dalam keluarga memainkan peran fundamental dalam pembentukan karakter dan kesadaran spiritual menurut perspektif pendidikan Islam. Keluarga dianggap sebagai lembaga pendidikan pertama dan utama yang bertanggung jawab menanamkan nilai-nilai akhlak berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep pendidikan akhlak anak dalam keluarga dengan mengintegrasikan pemikiran Islam klasik dan pendekatan pendidikan kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui metode tinjauan literatur, dengan sumber data berupa buku, artikel jurnal ilmiah, dan literatur akademik terkait. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan analitis untuk mengkaji prinsip, metode, dan peran keluarga dalam pendidikan akhlak anak-anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan akhlak dalam keluarga dilakukan melalui teladan orang tua, kebiasaan perilaku positif, komunikasi pendidikan yang penuh kasih sayang, dan bimbingan akhlak yang berkelanjutan. Orang tua memainkan peran strategis sebagai pendidik utama dalam membentuk karakter, keyakinan, dan tanggung jawab sosial anak-anak. Integrasi pemikiran Islam klasik dan pendekatan pendidikan modern menegaskan bahwa pendidikan akhlak berbasis keluarga tetap relevan dalam menghadapi tantangan kehidupan modern. </p> 2026-04-04T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 Muhammad Dzaki Miftahur Rizki, Alwi Alhadad, Muhammad Sadad Mubarok, Wafa Uswatun Hasanah, Nayla Aulia Zahra, Tarsono https://ejournal.yayasanpendidikandzurriyatulquran.id/index.php/ihsan/article/view/5236 Analisis Konsep Pernikahan Dalam Perspektif Islam Dan Implementasinya Pada Generasi Muda Di Era Modern 2026-04-01T01:00:23+07:00 Najwa Dwi Heryanti nadiafriska97@gmail.com Natasya Suci Ananda najwaheryanti@gmail.com Syifani Azzura najwaheryanti@gmail.com Hapni Laila Siregar najwaheryanti@gmail.com <p><em>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman serta pandangan generasi muda terhadap konsep pernikahan dalam perspektif Islam dan implementasinya pada era modern. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei melalui penyebaran kuesioner kepada 30 responden yang termasuk dalam kategori generasi muda. Instrumen penelitian terdiri dari 20 pernyataan yang menggunakan skala Likert dengan empat pilihan jawaban, yaitu sangat tidak setuju, tidak setuju, setuju, dan sangat setuju. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan perangkat lunak IBM SPSS Statistics dengan teknik analisis deskriptif, uji validitas, dan uji reliabilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa generasi muda memiliki pemahaman yang cukup baik mengenai konsep pernikahan dalam perspektif Islam. Hal ini ditunjukkan oleh dominasi jawaban responden pada kategori setuju dan sangat setuju pada sebagian besar indikator penelitian. Selain itu, hasil analisis menunjukkan bahwa instrumen penelitian memiliki tingkat reliabilitas yang tinggi dengan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,883. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa generasi muda memandang pernikahan sebagai institusi penting yang tidak hanya memiliki dimensi sosial, tetapi juga dimensi religius sebagai bentuk ibadah yang bertujuan membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.</em></p> 2026-04-06T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 Najwa Dwi Heryanti, Natasya Suci Ananda, Syifani Azzura, Hapni Laila Siregar https://ejournal.yayasanpendidikandzurriyatulquran.id/index.php/ihsan/article/view/3399 Pendekatan Pembiasaan dalam Pendidikan Sholat Anak Usia Dini Menurut Perspektif Al-Qur'an dan Hadist 2025-12-15T12:24:29+07:00 Irisya Nuruliyah nuruliyahirisya@gmail.com Irsyad Alfath 2342052045@webmail.uad.ac.id Sutrisno trisno_63@yahoo.com <p>Pendidikan Islam bagi anak dapat diajarkan pada sejak dini. Pada masa ini, anak sangat sensitif terhadap apapun yang mereka lihat dan mereka dapatkan, termasuk melihat kebiasaan orang tuanya ketika sholat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pendekatan pembiasaan dalam pendidikan sholat bagi anak usia dini berdasarkan perspektif Al-Qur’an dan Hadis. Kajian dilakukan melalui metode <em>literature review</em> terhadap berbagai sumber ilmiah, baik klasik maupun kontemporer, dalam kurun waktu 2020–2025. Fokus utama penelitian ini adalah pada pemahaman teologis dan pedagogis tentang pentingnya pembiasaan sholat sejak usia dini, strategi implementasi di lembaga PAUD, serta keterpaduannya dengan teori perkembangan anak. Hasil kajian menunjukkan bahwa pembiasaan sholat merupakan strategi pendidikan efektif dalam menanamkan nilai spiritual, disiplin, dan karakter religius anak usia dini. Landasan normatif pembiasaan ini termuat dalam QS. An-Nisā’ [4]:103 yang menegaskan pentingnya penegakan sholat tepat waktu, serta hadis riwayat Abu Dawud yang memerintahkan orang tua untuk mengajarkan sholat kepada anak sejak usia tujuh tahun. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembiasaan sholat pada anak usia dini perlu dikembangkan melalui pendekatan holistik yang mengintegrasikan nilai agama, psikologi perkembangan, dan keterlibatan keluarga.</p> 2026-04-06T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 Irisya Nuruliyah, Irsyad Alfath, Sutrisno https://ejournal.yayasanpendidikandzurriyatulquran.id/index.php/ihsan/article/view/3791 Belajar dan Mengajar sebagai Kewajiban Qur’ani: Analisis Normatif dan Implikasi Edukatif dalam Kehidupan Masyarakat Muslim 2025-12-26T11:34:43+07:00 Aminatuzzahrah aminatuzzahrahzahrah643@gmail.com <p>Penelitian ini bertujuan mengungkap dasar normatif dalam Al-Qur’an yang menjelaskan kewajiban belajar dan mengajar bagi umat Islam serta menelaah implikasinya terhadap kehidupan individu dan sosial masyarakat. Kajian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan dan teknik analisis isi terhadap sejumlah ayat Al-Qur’an yang relevan dengan konsep ilmu pengetahuan dan pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Qur’an menegaskan pentingnya proses belajar dan mengajar sebagai sarana pembentukan karakter, pengembangan intelektual, dan peningkatan spiritualitas umat. Kewajiban menuntut ilmu tidak hanya bersifat personal, tetapi juga memiliki dimensi sosial yang berpengaruh terhadap kemajuan peradaban Islam. Dengan demikian, pendidikan Islam memiliki peran strategis dalam membangun masyarakat yang berilmu, berakhlak, dan berdaya saing tinggi.</p> 2026-04-06T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 Aminatuzzahrah